Memahami Kebenaran [1: Referensial]
Jangan kuatir! Tulisan ini bukan propaganda klasik model literatur Kristenisasi yang demen menpribadikan kebenaran sebagai Yesus. Bukankah Yesus berkata bahwa dia adalah jalan dan kebenaran yang hidup? Tidak heran orang Kristen pun lantas mensteno kebenaran sebagai Yesus. Sudah jelas si Kristen itu keliru!
Dalam urusan kebenaran ini Anda mungkin lebih pintar dari pada si Kristen itu. (Karena mungkin saja itu hanya karena Anda bukan Kristen.) Yang pasti, secara umum saja, ada banyak sekali kecenderungan di alam pikiran modern yang demen sekali (satu) mengkata-bendakan kebenaran, dan (dua) menganggap kebenaran itu betul-betul adalah sesuatu yang otonom di luar sana. Persepsi atas kebenaran ini kadang keluar dalam klise model ‘kebenaran pasti akan tersingkap’ atau ‘lambat laun kebenaran akan muncul’ dan banyak lagi klise-klise lainnya yang identik.
Persepsi yang demen membendakan kebenaran ini pun sebetulnya murni dari alam pikiran Barat. Para pemikir Barat itu sendiri idenya yach terinfeksi oleh tradisi Greko-Kristen yang memang merupakan sumber-sumber utama kebudayaan Barat. Filsuf Barat dari jamannya Yunani misalnya, dari dulu sudah pada gila mencari-cari yang namanya ‘kebenaran’; sementara agama Kristen itu sendiri menegaskan bahwa si kebenaran yang dicari-cari oleh si Yunani itu sebetulnya sudah lahir di Betlehem dan namanya Yesus itu. Selanjutnya, alam pikiran Barat pun yach tidak bisa lari menghindar dari prakonsepsi utama atas kebenaran ini. Yaitu bahwa kebenaran adalah 'sesuatu benar-benar sesuatu' yang bisa dipercaya, diyakini, dicari dan bahkan disembah.
Nah, sekarang coba mundur lagi satu petak ke belakang. Tanyanya begini, jika persepsi si Barat atas kebenaran itu sumbernya berasal dari si Yunani Kuno (model Plato Aristoteles itu) plus klenik Kristen agama ciptaanya si Yahudi Paulus; maka sekarang, mereka berdua sendiri sebetulnya terpengaruh sama siapa? Tidak terpengaruh siapa-siapa? Nggak juga! Karena sebetulnya, sumber intelektual mereka berdua sendiri pun sama saja, yaitu: Mesir Kuno! Buat yang satu ini, Herodotus si sejarawan Yunani Kuno yang terkenal itu sudah mengakui bahwa mereka berhutang banyak sekali terhadap Mesir Kuno secara intelek; sementara di Alkitab sendiri yach lihat saja sendiri, si Musa dan si Yesus itu keduanya sempat cangkruk lama di Mesir. Si Musa dibilang 'lari dari Mesir', sementara si Yesus dibilang 'keluar dari Mesir'. So, singkat ceritanya, Mesir Kuno memang telah memandang Kebenaran sebagai suatu substansi yang hidup seperti, misalnya, pemeo hidupnya si Akhenaten dengan agama Atenismenya itu adalah ankhemmaat yang artinya ialah 'hidup di dalam kebenaran'. Dan sama seperti Kristen melihat Dewa Yesus (alias Zeus) sebagai perwujudan si Kebenaran itu sendiri, Mesir Kuno melihat Dewi Maat sebagai personifikasi si Kebenaran. Kata maat sendiri dalam bahasa Mesir Kuno pun juga berarti kebenaran; persis sama seperti kata Yesus buat orang-orang model George Bush atau Jimmy Carter atau si Paus Katolik, yang juga berarti Kebenaran.
Sekarang, bagaimana nasibnya si kebenaran di Timur?
Dunia Timur ternyata sama sekali tidak pernah peduli dengan kebenaran! Filsuf Timur dari jaman antiknya Cina atau pun India sama sekali tidak pernah merisaukan dan tidak pernah menyibukan diri dengan masalah kebenaran! Alam pikiran Timur sendiri lebih menitik-beratkan orientasinya secara paradoksal ke dua hal (satu) fakta atau kenyataan, dan sekaligus (dua) ke-sementara-an fakta tersebut. Misalnya, Siddharta Buddha menyingkat semua ini ke dalam konsep 'maya'. 'Maya' ini sendiri kemudian secara otonom dan terpisah (tanpa si Laozi pernah kenal si Siddharta) dideskripsikan menjadi model 'Tao yang punya atau bisa diberi nama bukanlah Tao itu sendiri'. Deskripsinya beda, tapi maksudnya jelas sama. 'Maya' itu sendiri lantas dibeberkan secara filosofis oleh si Nagarjuna yang adalah filsufnya Buddhisme; konsep dari si Nagarjuna ini kemudian diadopsi oleh Zen Buddhisme dan menjadi terkenal sekali dalam dialek Jepangnya, yaitu 'nen'.
Konsep atas 'nen' ini secara positif bisa didefinisikan sebagai perintah untuk 'menerima setiap kenyataan sebagaimana dia hadir'. Secara filosofis sendiri nen bisa dimengerti sebagai anti-main-potong yang otomatis hanya bisa jadi pikiran spekulatif. Misalnya, si Kristen bilang bahwa 'kita semua adalah anak Allah', yang sudah barang tentu merupakan suatu proposisi spekulatif, karena di manakah saya bisa melihat ke-anak-allah-an di dalam diri saya? Nah, buntutnya yach sudah tentu si Kristen bakal bilang 'kamu harus percaya!'; alias percaya saja jangan tanya-tanya lagi. Lucu khan! Kelihatannya saja Kristen itu agama yang intelek, padahal sisi inteleknya itu yach cuman dipakai buat menjual jamu saja, buat membuat kita 'menerima saja' tanpa pake tanya-tanya lagi! So, ini adalah bentuk dari konsep atas nen tadi. Pertama-tama kali sekali yang hadir khan hanyalah 'aku', tapi kemudian kehadiran si aku ini dispekulasikan dan dicap sebagai 'anak allah'. 'Aku'-nya sendiri yach sudah jelas 'otentik', namun 'anak-allah-nya' sendiri mana bisa 'otentik'? Tidak mungkin, karena si anak-allah itu harus dependen dengan kehadiranku tadi! Atau simplenya saja, dalam dunianya Semit itu, si Tuhan yach cuman bisa eksis sepanjang umatnya masih ada dan masih ada orang yang mau menyebutnya Tuhan; karena khan sudah jelas eksistensi si Tuhan itu yach 100% tergantung sama umatnya tadi! Kalau nggak ada yang mempercayainya sebagai Tuhan, maka yach mampuslah si Tuhan itu. Dan ini memang betul-betul terjadi! Model Tuhan Mithra, yach sudah mati karena nggak ada umatnya lagi; juga si tuhan Ahura-Mazda di Zoroaster yang ngos-ngosan mencari-cari umat.
Dengan karakteristik yang begini, sudah jelas alam pikiran Timur TIDAK MUNGKIN bisa peduli kebenaran model di Barat! Dalam model pikiran Barat itu, kebenaran dilihat seperti percikan si Maat atau si Yesus atau pun si Kebenaran ke suatu kasus. Jadi, 1+1=2 itu dibilang 'benar' yach karena proposisi 1+1=2 itu kena percikan si Yesus atau si Maat atau si Kebenaran. Konsep ini kerennya dikenal sebagai 'emanasi'. Definisi emanasi sendiri ialah (dalam bahasa saya sendiri) "keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada itu mengalir DARI sesuatu yang ada di atasnya atau pun yang ada di sebelumnya". Konsep ini serupa dengan konsep Barat lainnya yang juga keren, yaitu 'causa prima', alias kepercayaan bahwa secara metafisik segala sesuatu itu PASTI dan HARUS ada penyebabnya, di mana si tuhan sendiri menjadi si Sebab Tertinggi itu.
Konsep 'emanasi' itu dalam alam pikiran Barat itu betul-betul merajalela kayak virus kanker menggegroti setiap persepsinya. Termasuk di bidang estetika juga, dan ini secara nakal sering saya gunakan buat ngrayu cewek sambil membuatnya pusing. Ngrayunya model begini, (fakta atas kehadirannya:) saya melihat kamu koq cantik sekali yach, (nen atau emanasinya:) aku jadi heran sendiri, kamu itu MEMANG cantik atau kamu itu cuman sekedar PUNYA kecantikan? (Genjot terus, bikin dia pusing) bagaimana yach caranya bisa PUNYA kecantikan begitu?
Anda lihat, si dia pada awalnya hanyalah hadir dengan suatu kata keterangan, yaitu 'cantik'. Problemnya, sebagaimana Anda tahu, 'cantik' adalah kata yang subyektif. Cantik buat saya belum tentu cantik buat Anda, dan sama saja sebaliknya. Karena itulah saya kemudian membendakan cantik itu menjadi kata benda, alias 'kecantikan'. Harapannya yach tentu saja --sebagaimana harapannya semua filsuf Barat-- yaitu agar saya bisa jadi 'obyektif'. Padahal, di tingkat mau main obyektif-obyektifan inilah saya --buat si Timur-- malah jadi terjerumus masuk ke jurangnya nen. Karena saya telah men-distingsi-kan satu hal yang sebetulnya cuman satu (yaitu: dia cantik) menjadi dua hal yang kelihatannya saja terpisah (yaitu: dia PUNYA kecantikan).
Contoh nakal-nakalan lainnya yang serupa pun juga masih banyak! Misalnya, faktanya ialah 'Anda jatuh cinta', tapi kemudian Anda mau main model si intelektual Barat dan lantas memotong-motong fakta itu menjadi (satu) Anda memang jatuh cinta gara-gara dia, atau (dua) Anda itu sebetulnya hanyalah mencintai situasi jatuh cinta itu LEBIH dari mencintai si dia sendiri. So, buat si Timur, kalau Anda begini itu namanya yach cuman satu, goblog! Tapi buat si Barat yang memang hobbi main potong fakta, wah..., itu kalau Anda bisa menuliskannya yach bakalan jadi novel laris. Alias, apa yang goblog buat kita di Timur malah bisa jadi cerita laris kalau di Barat.
-o0o-
Kalau boleh kasih kategori, maka apa yang Anda baca di atas itu akan saya kategorikan sebagai 'arkeologi tentang kebenaran'. Secara singkat kita melihat asal usul serta sejarah konsep tentang persepsi atas kebenaran di Barat maupun di Timur. Melalui pendekatan historis begitu, paling tidak kita bisa melihat sisi-sisi budayawi dalam memandang serta memahami persepsi kita atas kebenaran itu sendiri.
Lantas, kebenaran itu sendiri 'ada atau tidak'? Coba Anda jawab sekarang!
[So, Anda sudah membaca uraian singkat tentang arkeologi tentang kebenaran di atas, apa jawaban Anda terhadap pertanyaan klasik itu?]
Ini --> pertanyaan itu sendiri sudah penuh muatan konsepsi yang Barat-sentris! Jadi, pertanyaan itu yach tidak mungkin dijawab "secara bebas" dari jeratan-jeratan pikiran serta supraposisinya si Barat itu! Dan karena saya betul-betul memandang rendah kebudayaan inteleknya si Barat, maka pertanyaan itu harusnya dibahasakan lagi menjadi "dalam pikiran Barat kebenaran itu ada atau tidak?", dan jawabnya 'Iya, ada". Tapi kalau mau memakai yang Timur sebagai acuannya, maka tanyanya pun harus "dalam pikiran Timur kebenaran itu ada atau tidak?", dan jawabnya 'Tidak ada!'.
Ini contoh lainnya dalam bentuk dialog sehari-hari buat melihat penetrasi Barat-sentris (sebetulnya lebih tepat Semit-sentris):
- Tanya: Kamu agamanya apa?
- Jawab: Nggak punya agama!
- Tanya: Wah..., berarti kamu ateis dan kafir dong!
- Jawab: Nah, 'ateis' itu adalah konsep yang Semit-sentris, artinya yach cuman dikenal serta diakui OLEH orang-orang yang dari sononya sudah percaya sama salah satu ajaran gila agama-agama Semit (Judaisme Kristen Islam) itu! Di Timur sendiri, agama model Buddha misalnya, sama sekali tidak punya Tuhan tapi sekaligus juga tidak ateis -- karena konsep Timur memang tidak mengenal teis-teisan model agama-agama sinting Judaisme-Kristen-Islam itu! So, kalau pun Anda masih ngotot mengacu ke konsep-konsep Semit sinting itu, saran saya yach pindah saja ke Arab atau ke negara-negara Bule Kristen sana itu!
Khan sudah jelas ateisme itu pertama-tama sekali HANYALAH suatu konsep; dan kedua, sebagai konsep pun lahirnya yach di antara agama-agama Semit goblog-goblog yang monoteis itu! Iya khan!? Membawa konsep Semit atau Barat ke Timur adalah persis kayak mau menuntut kita rambutnya harus pirang! Yach sinting!
-o0o-
Okey, Barat & Semit memang goblog-goblog, tapi sekali lagi, kebenaran itu sendiri ada atau tidak sih?
Ini, sebetulnya, kebenaran itu bukannya 'ada atau tidak', tapi kebenaran itu sifatnya harus selalu 'referensial' atau merujuk ke referensi yang tepat.
Misalnya, 6+8=14 itu betul KARENA meski kita tidak mengatakannya secara nyata dan hanya saling sepakat secara diam, secara referensial kita DIKUASAI oleh matematika yang berbasis puluhan -- bukannya dua-belasan model matematikanya Babilonia misalnya! Tapi coba sekarang 6+8=14 itu direphare dalam perhitungan yang menggunakan referensi dua-belasan, model: "sekarang jam 6, 8 jam lagi dari sekarang jam berapa?" Jawabnya malah '2'. Aneh khan! Tapi tetap benar, karena secara referensial 'jam 6 + 8 jam = jam 2'.
Saya ini mengetik sambil merokok. Bayangkan sekarang saya menunjuk ke rokok saya dan tanya ke Anda, 'Ini apa?' Terus Anda bilang, 'Une clope'. Benar atau salah? Nah, perhatikan: saya bertanya dalam Bahasa Indonesia maka secara tersirat pun saya sebetulnya sudah menyodorkan referensi mana yang harus Anda gunakan buat menjawab pertanyaan saya itu! Jadi, Anda pun yach harus menuruti referensi tersirat itu dan bilang 'rokok'. Dengan bilang 'rokok', Anda benar karena jawaban Anda setara dengan referensi yang saya tuntut. Dan tentu saja meskipun 'une clope' itu dalam slangnya Perancis artinya juga rokok, maka dalam konteks ini jawaban Anda itu tidak bisa dibenarkan! Jelas khan! Bendera Indonesia misalnya, yach Merah-Putih, bukannya 'Red & White'.
Superman itu pekerjaan sehari-harinya adalah wartawan, nama aslinya sendiri Clark Kent. Benar atau salah? Maka sekali lagi, harus referensial! So, kalau kita merujuk ke komik Superman yang memang sudah banyak dibaca umum itu, maka statemen atau proposisi itu yach tentu saja 'benar'! Tapi, 'benar' dalam hal tentang si Superman itu yach sama sekali tidak bisa disimpulkan menjadi "benar bahwa ADA seorang superman bule yang betul-betul hidup di dunia ini, kerjanya jadi wartawan dan namanya Clark Kent!". Benar di sana itu TIDAK mereferensi ke kenyataan, melainkan ke komik superman itu tadi yang yach sudah jelas 100% fiktif.
Ini sama saja dengan benar-salahnya proposisi model 'Yesus itu adalah juruselamat dunia'. Proposisi ini 'benar' jika kita benturkan atau referensikan ke Injil yang memang ngomong begitu! Tapi, apakah si Yesus itu sendiri memangnya juruselamat dunia yang betul-betul ada di dunia model si Superman? Yach sudah jelas itu cuman bisa dipakai untuk membohongi anak kecil saja. Dan memang, cuman anak kecil saja yang bisa percaya bahwa Superman itu betul-betul ADA.
Sekarang coba, Tuhan ada atau tidak? Dan Anda bilang 'tidak ada'. Okey, sekarang, kalau Tuhan memang tidak ada maka bagaimana Anda bisa (1) memahami pertanyaan saya dan (2) bisa tahu si Tuhan itu tidak ada? Nah, golongan semit-semit goblog itu demen sekali main pinter-pinteran begini! Padahal ini urusan sederhana saja! Saya TAHU tentang Tuhan karena kata Tuhan memang eksis di dalam bahasa (Indonesia), sebagaimana kata putri-duyung (mermaid) pun juga eksis dan ada. Tapi, sebagaimana kata putri-duyung itu saya tahu ada serta eksis di dalam perbendaharaan-kata bahasa Indonesia, saya pun juga tahu bahwa putri-duyung itu tidak eksis di dunia nyata! Dan hal ini pun yach persis dengan kasusnya si Tuhan itu! Saya bisa memahami pertanyaan itu karena SECARA REFERENSIAL pertanyaan itu sah; dan saya bisa menjawab 'tidak ada' karena saya tahu persis bahwa sebagian kata dalam perbendaharaan-kata itu sifatnya imajinatif, bukannya faktual! Dan saya tahu persis bahwa kata Tuhan itu murni seimajinatif kata Semar Bagong Petruk yang sudah jelas tidak mungkin ada serta eksis sebagaimana si Superman Gundala Godam Spiderman.
-o0o-
Kebenaran itu selalu referensial! Lebih dalam lagi, acuan referensialnya sendiri secara umum ada di dua bidang, yaitu bahasa dan matematika. Kebenaran yang secara referensial dapat dibuktikan dengan matematika pada umumnya bisa direplikasi di dunia nyata, meskipun inipun juga tidak mutlak! Model paradoks Zeno yang secara tak-terhingga hingga yang terkecil bilang bisa dibelah dua terus misalnya, sudah terbukti TIDAK realistis karena sekarang kita secara ilmiah sudah dapat 'melihat' benda terkecil yang tidak mungkin dibelah dua lagi itu seperti apa modelnya. So, matematika pun tidak bisa 'mutlak'. Gampang-gampangan saja, 10:3 pun tidak akan pernah bisa jadi 10 lagi! 'Mendekati 10' iya, tapi 'murni menjadi 10 lagi' tidak.
Yang bikin resah itu adalah kebenaran yang secara referensial menggunakan bahasa. Kebenaran dengan referensi bahasa ini bisa dibagi dalam 4 tingkatan:
- Secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan;
- Secara referensial eksis dalam bahasa, dan eksis di kenyataan;
- Secara referensial tidak eksis dalam bahasa, tapi eksis di kenyataan;
- Secara referensial tidak eksis dalam bahasa, dan tidak eksis di kenyataan.
Dalam 4 tingkatan ini, nomer 4-nya (secara referensial tidak eksis dalam bahasa, dan tidak eksis di kenyataan) yach sudah jelas absurd.
Nomer 3-nya sendiri (secara referensial tidak eksis dalam bahasa, tapi eksis di kenyataan) bisa bersifat matematis murni yang tidak mungkin bisa dibahasakan lagi model 'theory of everything' misalnya; atau, yach karena hal itu sendiri belum ditemukan. Seperti sebelum planet Pluto terdeteksi misalnya, maka nama 'planet Pluto' pun yach jelas tidak eksis MESKIPUN di luar angkasa sana dalam sistem tata surya kita betul-betul ada satu planet yang belum dikenal (dan kemudian dibaptis jadi Pluto). Lebih dalam lagi, nomer tiga ini juga berguna sekali buat pemikir sosial atau pun penggemar etimologi bahasa dalam mendeteksi penetrasi suatu konsep ke dalam suatu masyarakat. Misalnya, tahukah Anda bahwa ada banyak sekali kata-kata asing yang eksis di Quran? Konsep seperti sedekah misalnya, itu aslinya adalah konsepnya Yahudi (Judaisme) yang kemudian diadopsi oleh si Muhammad. Dalam Judaisme sendiri arti sedekah itu yach mirip pleq dengan sedekah dalam Islam, yaitu suatu aksi sosial yang bertujuan mendistribusikan kekayaan ke si miskin. Kemudian tentu saja, kata sedekah pun masuk ke dalam kazanah kosa-kata bahasa Indonesia dan menjadi konsep yang eksis di masyarakatnya. Juga kata 'logos' dalam Injil, itu adalah kata pinjaman dari filsafat Platonik yang kemudian dimampatkan menjadi doktrin agama Kristen. Atau pun dalam Buddhisme, isi pikirannya si Nagarjuna bisa merantau sampai ke Jepang via Cina dan Korea menjadi konsep atas nen! Dari studi atas nomer 3 ini kita kurang lebih bisa melihat proses akulturasi budaya di sana sini. Saat ini misalnya, di mana-mana kata 'impeach' jadi keren setelah si Clinton anunya diisep-isep sama si Monica. Saya yakin 25 tahun dari sekarang bahasa Indonesia pun bakal punya kosa kata 'impich' atau 'impis' buat mereferensi ke fakta yang sebelumnya cuman eksis di Amerika itu.
Nomer 2 yach sudah jelas okey saja dan kita pun nggak punya problem. Eksis dalam bahasa dan juga eksis di kenyataan yach berarti jelas 'benar'. Proposisi model 'ini tulisannya si JD' misalnya, yach sudah jelas benar secara referensial; baik secara bahasa maupun secara kenyataan.
Nomer 1-lah (secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan) yang sebetulnya merupakan problem besar buat kita! Terutama buat kalangan agamis-agamis korbannya si Semit itu. Coba lakukan ini, (1) bacalah suatu tulisan yang referensi serta inspirasinya menggunakan salah satu dari ketiga komik Semit itu (Tanakh Alkitab Quran), (2) kemudian tanya serta jawab sendiri ini 'statemen serta proposisi ini semua sebetulnya merujuk ke mana?' dan juga 'apa rujukan itu bisa langsung dianggap sebagai realitas itu sendiri?'
-o0o-
Dalam agama Kristen sebagai salah satu Semit goblog itu misalnya, doktrinnya biasa disingkat TULIP di mana T-nya adalah 'total deprivity'. Dalam fantasi hasil rujukan Alkitab ini, Kristen-kristen ini membayangkan tentang kerusakan dunia yang maha-hebat, sedemikian hebatnya kerusakan itu sehingga hubungan manusia dengan si penciptanya pun putus. Kerusakan itu, dalam fantasi Kristen ini, disebabkan gara-gara dosanya si Adam itu yang kemudian otomatis juga mencemarkan semua anak keturunannya -- dus semua umat manusia, karena fantasi Kristen memang tidak mengenal arkeologi apalagi biologi-evolusionisme, jadi Cino sama Jowo pun yach dianggap sama-sama anaknya Adam & Hawa.
Masalahnya sekarang, apakah dunia ini memang 'rusak' beneran seperti apa yang dibayangkan oleh fantasi liarnya Alkitab itu?
Dalam agama Islam alias agama Semit goblog lainnya, dikenal doktrin 'Muhammad adalah nabi terakhir'. Ini secara nakal dan berani sekali dibantah oleh Ulil dari JIL itu. Katanya Ulil dalam syahadat itu yang ada hanyalah 'Muhammad sebagai nabi Allah' bukannya 'Muhammad sebagai nabi TERAKHIR-nya Allah'; bukankah syahadat adalah kontrak satu-satunya bagi seseorang untuk menjadi muslim? So, yang pasti-pasti saja, dalam kontrak berwujud syahadat itu si Muh tidak disebut sebagai nabi terakhir maka 'percaya' sama Ahmadiyah pun yach bisa saja dibenarkan!
Eniwe, debat model begitu tetap sama saja referensinya yaitu Quran Hadits Sunnah, dan problemnya pun sama saja, apakah benar bahwa si Muhammad itu dalam kenyataannya memang bisa dibilang adalah si nabi yang terakhir sebagaimana yang dimaui si allah? Ingat, sekali lagi ingat, semua kata di sana (Muhammad nabi allah) murni cuman merujuk ke Quran saja.
Dari dua contoh di atas itu, jelas problemnya adalah yang nomer 1 di atas (secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan). Muhammad, allah, adam, hawa, dunia rusak, dosa asal..., semua itu secara referensial hanya eksis di dalam kosa-kata bahasa sebagaimana dimuat di buku komik Alkitab & Quran. Konsep goblog atas dosa-dosaan ala Kristen misalnya, wong sudah jelas si Yahweh atau Tuhannya sendiri melanggar dosa dan hobby membunuh orang -- koq bisa-bisanya mau dibilang hebat dan 'benar', apalagi 'eksis di kenyataan dalam artian semua orang berdosa'.
Kedua korban agama Semit goblog ini sebetulnya statusnya tidak beda dengan modelnya seorang perempuan yang 'percaya' bahwa 'semua pria itu bajingan'. Si perempuan itu percaya begitu saja mitos tentang bajingannya semua pria itu; mungkin hasil dengar cerita ibunya atau mungkin juga dari hasil nonton kebanyakan sinetron picisan di TV. Yang pasti, buat si perempuan itu mitos 'pria bajingan' itu betul-betul adalah kenyataan buat dirinya. Sehingga, dia mau berhubungan dengan pria model apapun, isi pikirannya pun yach masih saja dikuasai oleh mitos tolol itu! Akibatnya, kasihanlah si perempuan itu karena otomatis dia yach cuman bisa bertemu serta mengenal pria-pria bajingan.
Sama saja dengan si Kristen! Otomatis mereka yach cuman bisa melihat serta kenal dengan orang-orang yang berdosa, wong si goblog-goblog pengikut Yesus itu percaya penuh bahwa orang-orang itu berdosa!
Tapi, bagusnya Kristen modern adalah karena sintingnya itu mereka simpan saja buat mereka sendiri di ranah-ranah pribadinya dan tidak mereka bawa ke ranah-ranah publik atau sosial. Kalau pun iya, maka sama si Kristen-kristen yach dibawa ke negara-negara goblog model Indonesia dalam praktek-praktek Kristenisasi ala misionaris itu. Sedangkan si muslim sialan ini, mereka ini masih belum mampu menyimpan mitosnya di ranah-ranah pribadi dan terus saja mereka bawa-bawa ke ranah sosial.
Kenapa? Yach sekali lagi, karena mereka ingin sekali melihat apa yang tidak eksis di kenyataan dibuat eksis! Mereka dengan Qurannya percaya bahwa Islam dan muslim itu bakal dimusuhi sepanjang jaman, nggak heran mereka pun lantas jadi bermusuhan sama orang-orang non-muslim di kanan kiri. Mereka percaya jihad melawan si kafir, nggak heran sikap mereka itu di mana saja jadi menyebalkan!
Dan lebih gila lagi, mereka itu masih saja percaya bahwa yang mereka lakukan itu 'benar' dan 'adalah kebenaran'!
Ini adalah bentuk konkrit tentang orang-orang yang memang tidak memahami kebenaran itu apa! Yaitu, kebenaran itu bukannya mutlak relatif mencla-mencle atau apa saja lah; melainkan selalu dan cuman bisa bersifat referensial.
JD
----------------
Klik:
1. Tentang Maat serta percikan konsep atas Maat itu dalam diri Yesus: http://touregypt.net/godsofegypt/maat2.htm
2. Tentang Nagarjuna: http://en.wikipedia.org/wiki/Nagarjuna
3. Tentang Zen & nen: http://members.core.com/~ascensus/docs/nen.html
4. Tentang emanasi: http://www.utm.edu/research/iep/e/emanatio.htm
5. Tentang paradoks Zeno: http://mathforum.org/isaac/problems/zeno1.html
6. Tentang sedekah dalam Judaisme: http://www.shemayisrael.co.il/publicat/hazon/tzedaka/Tzedakah_and_Hospitality.html




