filsuf

rangsangan buat pikiran anda

23.10.05

Memahami Kebenaran [1: Referensial]

Jangan kuatir! Tulisan ini bukan propaganda klasik model literatur Kristenisasi yang demen menpribadikan kebenaran sebagai Yesus. Bukankah Yesus berkata bahwa dia adalah jalan dan kebenaran yang hidup? Tidak heran orang Kristen pun lantas mensteno kebenaran sebagai Yesus. Sudah jelas si Kristen itu keliru!

Dalam urusan kebenaran ini Anda mungkin lebih pintar dari pada si Kristen itu. (Karena mungkin saja itu hanya karena Anda bukan Kristen.) Yang pasti, secara umum saja, ada banyak sekali kecenderungan di alam pikiran modern yang demen sekali (satu) mengkata-bendakan kebenaran, dan (dua) menganggap kebenaran itu betul-betul adalah sesuatu yang otonom di luar sana. Persepsi atas kebenaran ini kadang keluar dalam klise model ‘kebenaran pasti akan tersingkap’ atau ‘lambat laun kebenaran akan muncul’ dan banyak lagi klise-klise lainnya yang identik.

Persepsi yang demen membendakan kebenaran ini pun sebetulnya murni dari alam pikiran Barat. Para pemikir Barat itu sendiri idenya yach terinfeksi oleh tradisi Greko-Kristen yang memang merupakan sumber-sumber utama kebudayaan Barat. Filsuf Barat dari jamannya Yunani misalnya, dari dulu sudah pada gila mencari-cari yang namanya ‘kebenaran’; sementara agama Kristen itu sendiri menegaskan bahwa si kebenaran yang dicari-cari oleh si Yunani itu sebetulnya sudah lahir di Betlehem dan namanya Yesus itu. Selanjutnya, alam pikiran Barat pun yach tidak bisa lari menghindar dari prakonsepsi utama atas kebenaran ini. Yaitu bahwa kebenaran adalah 'sesuatu benar-benar sesuatu' yang bisa dipercaya, diyakini, dicari dan bahkan disembah.

Nah, sekarang coba mundur lagi satu petak ke belakang. Tanyanya begini, jika persepsi si Barat atas kebenaran itu sumbernya berasal dari si Yunani Kuno (model Plato Aristoteles itu) plus klenik Kristen agama ciptaanya si Yahudi Paulus; maka sekarang, mereka berdua sendiri sebetulnya terpengaruh sama siapa? Tidak terpengaruh siapa-siapa? Nggak juga! Karena sebetulnya, sumber intelektual mereka berdua sendiri pun sama saja, yaitu: Mesir Kuno! Buat yang satu ini, Herodotus si sejarawan Yunani Kuno yang terkenal itu sudah mengakui bahwa mereka berhutang banyak sekali terhadap Mesir Kuno secara intelek; sementara di Alkitab sendiri yach lihat saja sendiri, si Musa dan si Yesus itu keduanya sempat cangkruk lama di Mesir. Si Musa dibilang 'lari dari Mesir', sementara si Yesus dibilang 'keluar dari Mesir'. So, singkat ceritanya, Mesir Kuno memang telah memandang Kebenaran sebagai suatu substansi yang hidup seperti, misalnya, pemeo hidupnya si Akhenaten dengan agama Atenismenya itu adalah ankhemmaat yang artinya ialah 'hidup di dalam kebenaran'. Dan sama seperti Kristen melihat Dewa Yesus (alias Zeus) sebagai perwujudan si Kebenaran itu sendiri, Mesir Kuno melihat Dewi Maat sebagai personifikasi si Kebenaran. Kata maat sendiri dalam bahasa Mesir Kuno pun juga berarti kebenaran; persis sama seperti kata Yesus buat orang-orang model George Bush atau Jimmy Carter atau si Paus Katolik, yang juga berarti Kebenaran.

Sekarang, bagaimana nasibnya si kebenaran di Timur?

Dunia Timur ternyata sama sekali tidak pernah peduli dengan kebenaran! Filsuf Timur dari jaman antiknya Cina atau pun India sama sekali tidak pernah merisaukan dan tidak pernah menyibukan diri dengan masalah kebenaran! Alam pikiran Timur sendiri lebih menitik-beratkan orientasinya secara paradoksal ke dua hal (satu) fakta atau kenyataan, dan sekaligus (dua) ke-sementara-an fakta tersebut. Misalnya, Siddharta Buddha menyingkat semua ini ke dalam konsep 'maya'. 'Maya' ini sendiri kemudian secara otonom dan terpisah (tanpa si Laozi pernah kenal si Siddharta) dideskripsikan menjadi model 'Tao yang punya atau bisa diberi nama bukanlah Tao itu sendiri'. Deskripsinya beda, tapi maksudnya jelas sama. 'Maya' itu sendiri lantas dibeberkan secara filosofis oleh si Nagarjuna yang adalah filsufnya Buddhisme; konsep dari si Nagarjuna ini kemudian diadopsi oleh Zen Buddhisme dan menjadi terkenal sekali dalam dialek Jepangnya, yaitu 'nen'.

Konsep atas 'nen' ini secara positif bisa didefinisikan sebagai perintah untuk 'menerima setiap kenyataan sebagaimana dia hadir'. Secara filosofis sendiri nen bisa dimengerti sebagai anti-main-potong yang otomatis hanya bisa jadi pikiran spekulatif. Misalnya, si Kristen bilang bahwa 'kita semua adalah anak Allah', yang sudah barang tentu merupakan suatu proposisi spekulatif, karena di manakah saya bisa melihat ke-anak-allah-an di dalam diri saya? Nah, buntutnya yach sudah tentu si Kristen bakal bilang 'kamu harus percaya!'; alias percaya saja jangan tanya-tanya lagi. Lucu khan! Kelihatannya saja Kristen itu agama yang intelek, padahal sisi inteleknya itu yach cuman dipakai buat menjual jamu saja, buat membuat kita 'menerima saja' tanpa pake tanya-tanya lagi! So, ini adalah bentuk dari konsep atas nen tadi. Pertama-tama kali sekali yang hadir khan hanyalah 'aku', tapi kemudian kehadiran si aku ini dispekulasikan dan dicap sebagai 'anak allah'. 'Aku'-nya sendiri yach sudah jelas 'otentik', namun 'anak-allah-nya' sendiri mana bisa 'otentik'? Tidak mungkin, karena si anak-allah itu harus dependen dengan kehadiranku tadi! Atau simplenya saja, dalam dunianya Semit itu, si Tuhan yach cuman bisa eksis sepanjang umatnya masih ada dan masih ada orang yang mau menyebutnya Tuhan; karena khan sudah jelas eksistensi si Tuhan itu yach 100% tergantung sama umatnya tadi! Kalau nggak ada yang mempercayainya sebagai Tuhan, maka yach mampuslah si Tuhan itu. Dan ini memang betul-betul terjadi! Model Tuhan Mithra, yach sudah mati karena nggak ada umatnya lagi; juga si tuhan Ahura-Mazda di Zoroaster yang ngos-ngosan mencari-cari umat.

Dengan karakteristik yang begini, sudah jelas alam pikiran Timur TIDAK MUNGKIN bisa peduli kebenaran model di Barat! Dalam model pikiran Barat itu, kebenaran dilihat seperti percikan si Maat atau si Yesus atau pun si Kebenaran ke suatu kasus. Jadi, 1+1=2 itu dibilang 'benar' yach karena proposisi 1+1=2 itu kena percikan si Yesus atau si Maat atau si Kebenaran. Konsep ini kerennya dikenal sebagai 'emanasi'. Definisi emanasi sendiri ialah (dalam bahasa saya sendiri) "keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada itu mengalir DARI sesuatu yang ada di atasnya atau pun yang ada di sebelumnya". Konsep ini serupa dengan konsep Barat lainnya yang juga keren, yaitu 'causa prima', alias kepercayaan bahwa secara metafisik segala sesuatu itu PASTI dan HARUS ada penyebabnya, di mana si tuhan sendiri menjadi si Sebab Tertinggi itu.

Konsep 'emanasi' itu dalam alam pikiran Barat itu betul-betul merajalela kayak virus kanker menggegroti setiap persepsinya. Termasuk di bidang estetika juga, dan ini secara nakal sering saya gunakan buat ngrayu cewek sambil membuatnya pusing. Ngrayunya model begini, (fakta atas kehadirannya:) saya melihat kamu koq cantik sekali yach, (nen atau emanasinya:) aku jadi heran sendiri, kamu itu MEMANG cantik atau kamu itu cuman sekedar PUNYA kecantikan? (Genjot terus, bikin dia pusing) bagaimana yach caranya bisa PUNYA kecantikan begitu?

Anda lihat, si dia pada awalnya hanyalah hadir dengan suatu kata keterangan, yaitu 'cantik'. Problemnya, sebagaimana Anda tahu, 'cantik' adalah kata yang subyektif. Cantik buat saya belum tentu cantik buat Anda, dan sama saja sebaliknya. Karena itulah saya kemudian membendakan cantik itu menjadi kata benda, alias 'kecantikan'. Harapannya yach tentu saja --sebagaimana harapannya semua filsuf Barat-- yaitu agar saya bisa jadi 'obyektif'. Padahal, di tingkat mau main obyektif-obyektifan inilah saya --buat si Timur-- malah jadi terjerumus masuk ke jurangnya nen. Karena saya telah men-distingsi-kan satu hal yang sebetulnya cuman satu (yaitu: dia cantik) menjadi dua hal yang kelihatannya saja terpisah (yaitu: dia PUNYA kecantikan).

Contoh nakal-nakalan lainnya yang serupa pun juga masih banyak! Misalnya, faktanya ialah 'Anda jatuh cinta', tapi kemudian Anda mau main model si intelektual Barat dan lantas memotong-motong fakta itu menjadi (satu) Anda memang jatuh cinta gara-gara dia, atau (dua) Anda itu sebetulnya hanyalah mencintai situasi jatuh cinta itu LEBIH dari mencintai si dia sendiri. So, buat si Timur, kalau Anda begini itu namanya yach cuman satu, goblog! Tapi buat si Barat yang memang hobbi main potong fakta, wah..., itu kalau Anda bisa menuliskannya yach bakalan jadi novel laris. Alias, apa yang goblog buat kita di Timur malah bisa jadi cerita laris kalau di Barat.

-o0o-

Kalau boleh kasih kategori, maka apa yang Anda baca di atas itu akan saya kategorikan sebagai 'arkeologi tentang kebenaran'. Secara singkat kita melihat asal usul serta sejarah konsep tentang persepsi atas kebenaran di Barat maupun di Timur. Melalui pendekatan historis begitu, paling tidak kita bisa melihat sisi-sisi budayawi dalam memandang serta memahami persepsi kita atas kebenaran itu sendiri.

Lantas, kebenaran itu sendiri 'ada atau tidak'? Coba Anda jawab sekarang!

[So, Anda sudah membaca uraian singkat tentang arkeologi tentang kebenaran di atas, apa jawaban Anda terhadap pertanyaan klasik itu?]

Ini --> pertanyaan itu sendiri sudah penuh muatan konsepsi yang Barat-sentris! Jadi, pertanyaan itu yach tidak mungkin dijawab "secara bebas" dari jeratan-jeratan pikiran serta supraposisinya si Barat itu! Dan karena saya betul-betul memandang rendah kebudayaan inteleknya si Barat, maka pertanyaan itu harusnya dibahasakan lagi menjadi "dalam pikiran Barat kebenaran itu ada atau tidak?", dan jawabnya 'Iya, ada". Tapi kalau mau memakai yang Timur sebagai acuannya, maka tanyanya pun harus "dalam pikiran Timur kebenaran itu ada atau tidak?", dan jawabnya 'Tidak ada!'.

Ini contoh lainnya dalam bentuk dialog sehari-hari buat melihat penetrasi Barat-sentris (sebetulnya lebih tepat Semit-sentris):

  • Tanya: Kamu agamanya apa?
  • Jawab: Nggak punya agama!
  • Tanya: Wah..., berarti kamu ateis dan kafir dong!
  • Jawab: Nah, 'ateis' itu adalah konsep yang Semit-sentris, artinya yach cuman dikenal serta diakui OLEH orang-orang yang dari sononya sudah percaya sama salah satu ajaran gila agama-agama Semit (Judaisme Kristen Islam) itu! Di Timur sendiri, agama model Buddha misalnya, sama sekali tidak punya Tuhan tapi sekaligus juga tidak ateis -- karena konsep Timur memang tidak mengenal teis-teisan model agama-agama sinting Judaisme-Kristen-Islam itu! So, kalau pun Anda masih ngotot mengacu ke konsep-konsep Semit sinting itu, saran saya yach pindah saja ke Arab atau ke negara-negara Bule Kristen sana itu!

Khan sudah jelas ateisme itu pertama-tama sekali HANYALAH suatu konsep; dan kedua, sebagai konsep pun lahirnya yach di antara agama-agama Semit goblog-goblog yang monoteis itu! Iya khan!? Membawa konsep Semit atau Barat ke Timur adalah persis kayak mau menuntut kita rambutnya harus pirang! Yach sinting!

-o0o-

Okey, Barat & Semit memang goblog-goblog, tapi sekali lagi, kebenaran itu sendiri ada atau tidak sih?

Ini, sebetulnya, kebenaran itu bukannya 'ada atau tidak', tapi kebenaran itu sifatnya harus selalu 'referensial' atau merujuk ke referensi yang tepat.

Misalnya, 6+8=14 itu betul KARENA meski kita tidak mengatakannya secara nyata dan hanya saling sepakat secara diam, secara referensial kita DIKUASAI oleh matematika yang berbasis puluhan -- bukannya dua-belasan model matematikanya Babilonia misalnya! Tapi coba sekarang 6+8=14 itu direphare dalam perhitungan yang menggunakan referensi dua-belasan, model: "sekarang jam 6, 8 jam lagi dari sekarang jam berapa?" Jawabnya malah '2'. Aneh khan! Tapi tetap benar, karena secara referensial 'jam 6 + 8 jam = jam 2'.

Saya ini mengetik sambil merokok. Bayangkan sekarang saya menunjuk ke rokok saya dan tanya ke Anda, 'Ini apa?' Terus Anda bilang, 'Une clope'. Benar atau salah? Nah, perhatikan: saya bertanya dalam Bahasa Indonesia maka secara tersirat pun saya sebetulnya sudah menyodorkan referensi mana yang harus Anda gunakan buat menjawab pertanyaan saya itu! Jadi, Anda pun yach harus menuruti referensi tersirat itu dan bilang 'rokok'. Dengan bilang 'rokok', Anda benar karena jawaban Anda setara dengan referensi yang saya tuntut. Dan tentu saja meskipun 'une clope' itu dalam slangnya Perancis artinya juga rokok, maka dalam konteks ini jawaban Anda itu tidak bisa dibenarkan! Jelas khan! Bendera Indonesia misalnya, yach Merah-Putih, bukannya 'Red & White'.

Superman itu pekerjaan sehari-harinya adalah wartawan, nama aslinya sendiri Clark Kent. Benar atau salah? Maka sekali lagi, harus referensial! So, kalau kita merujuk ke komik Superman yang memang sudah banyak dibaca umum itu, maka statemen atau proposisi itu yach tentu saja 'benar'! Tapi, 'benar' dalam hal tentang si Superman itu yach sama sekali tidak bisa disimpulkan menjadi "benar bahwa ADA seorang superman bule yang betul-betul hidup di dunia ini, kerjanya jadi wartawan dan namanya Clark Kent!". Benar di sana itu TIDAK mereferensi ke kenyataan, melainkan ke komik superman itu tadi yang yach sudah jelas 100% fiktif.

Ini sama saja dengan benar-salahnya proposisi model 'Yesus itu adalah juruselamat dunia'. Proposisi ini 'benar' jika kita benturkan atau referensikan ke Injil yang memang ngomong begitu! Tapi, apakah si Yesus itu sendiri memangnya juruselamat dunia yang betul-betul ada di dunia model si Superman? Yach sudah jelas itu cuman bisa dipakai untuk membohongi anak kecil saja. Dan memang, cuman anak kecil saja yang bisa percaya bahwa Superman itu betul-betul ADA.

Sekarang coba, Tuhan ada atau tidak? Dan Anda bilang 'tidak ada'. Okey, sekarang, kalau Tuhan memang tidak ada maka bagaimana Anda bisa (1) memahami pertanyaan saya dan (2) bisa tahu si Tuhan itu tidak ada? Nah, golongan semit-semit goblog itu demen sekali main pinter-pinteran begini! Padahal ini urusan sederhana saja! Saya TAHU tentang Tuhan karena kata Tuhan memang eksis di dalam bahasa (Indonesia), sebagaimana kata putri-duyung (mermaid) pun juga eksis dan ada. Tapi, sebagaimana kata putri-duyung itu saya tahu ada serta eksis di dalam perbendaharaan-kata bahasa Indonesia, saya pun juga tahu bahwa putri-duyung itu tidak eksis di dunia nyata! Dan hal ini pun yach persis dengan kasusnya si Tuhan itu! Saya bisa memahami pertanyaan itu karena SECARA REFERENSIAL pertanyaan itu sah; dan saya bisa menjawab 'tidak ada' karena saya tahu persis bahwa sebagian kata dalam perbendaharaan-kata itu sifatnya imajinatif, bukannya faktual! Dan saya tahu persis bahwa kata Tuhan itu murni seimajinatif kata Semar Bagong Petruk yang sudah jelas tidak mungkin ada serta eksis sebagaimana si Superman Gundala Godam Spiderman.

-o0o-

Kebenaran itu selalu referensial! Lebih dalam lagi, acuan referensialnya sendiri secara umum ada di dua bidang, yaitu bahasa dan matematika. Kebenaran yang secara referensial dapat dibuktikan dengan matematika pada umumnya bisa direplikasi di dunia nyata, meskipun inipun juga tidak mutlak! Model paradoks Zeno yang secara tak-terhingga hingga yang terkecil bilang bisa dibelah dua terus misalnya, sudah terbukti TIDAK realistis karena sekarang kita secara ilmiah sudah dapat 'melihat' benda terkecil yang tidak mungkin dibelah dua lagi itu seperti apa modelnya. So, matematika pun tidak bisa 'mutlak'. Gampang-gampangan saja, 10:3 pun tidak akan pernah bisa jadi 10 lagi! 'Mendekati 10' iya, tapi 'murni menjadi 10 lagi' tidak.

Yang bikin resah itu adalah kebenaran yang secara referensial menggunakan bahasa. Kebenaran dengan referensi bahasa ini bisa dibagi dalam 4 tingkatan:

  1. Secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan;
  2. Secara referensial eksis dalam bahasa, dan eksis di kenyataan;
  3. Secara referensial tidak eksis dalam bahasa, tapi eksis di kenyataan;
  4. Secara referensial tidak eksis dalam bahasa, dan tidak eksis di kenyataan.

Dalam 4 tingkatan ini, nomer 4-nya (secara referensial tidak eksis dalam bahasa, dan tidak eksis di kenyataan) yach sudah jelas absurd.

Nomer 3-nya sendiri (secara referensial tidak eksis dalam bahasa, tapi eksis di kenyataan) bisa bersifat matematis murni yang tidak mungkin bisa dibahasakan lagi model 'theory of everything' misalnya; atau, yach karena hal itu sendiri belum ditemukan. Seperti sebelum planet Pluto terdeteksi misalnya, maka nama 'planet Pluto' pun yach jelas tidak eksis MESKIPUN di luar angkasa sana dalam sistem tata surya kita betul-betul ada satu planet yang belum dikenal (dan kemudian dibaptis jadi Pluto). Lebih dalam lagi, nomer tiga ini juga berguna sekali buat pemikir sosial atau pun penggemar etimologi bahasa dalam mendeteksi penetrasi suatu konsep ke dalam suatu masyarakat. Misalnya, tahukah Anda bahwa ada banyak sekali kata-kata asing yang eksis di Quran? Konsep seperti sedekah misalnya, itu aslinya adalah konsepnya Yahudi (Judaisme) yang kemudian diadopsi oleh si Muhammad. Dalam Judaisme sendiri arti sedekah itu yach mirip pleq dengan sedekah dalam Islam, yaitu suatu aksi sosial yang bertujuan mendistribusikan kekayaan ke si miskin. Kemudian tentu saja, kata sedekah pun masuk ke dalam kazanah kosa-kata bahasa Indonesia dan menjadi konsep yang eksis di masyarakatnya. Juga kata 'logos' dalam Injil, itu adalah kata pinjaman dari filsafat Platonik yang kemudian dimampatkan menjadi doktrin agama Kristen. Atau pun dalam Buddhisme, isi pikirannya si Nagarjuna bisa merantau sampai ke Jepang via Cina dan Korea menjadi konsep atas nen! Dari studi atas nomer 3 ini kita kurang lebih bisa melihat proses akulturasi budaya di sana sini. Saat ini misalnya, di mana-mana kata 'impeach' jadi keren setelah si Clinton anunya diisep-isep sama si Monica. Saya yakin 25 tahun dari sekarang bahasa Indonesia pun bakal punya kosa kata 'impich' atau 'impis' buat mereferensi ke fakta yang sebelumnya cuman eksis di Amerika itu.

Nomer 2 yach sudah jelas okey saja dan kita pun nggak punya problem. Eksis dalam bahasa dan juga eksis di kenyataan yach berarti jelas 'benar'. Proposisi model 'ini tulisannya si JD' misalnya, yach sudah jelas benar secara referensial; baik secara bahasa maupun secara kenyataan.

Nomer 1-lah (secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan) yang sebetulnya merupakan problem besar buat kita! Terutama buat kalangan agamis-agamis korbannya si Semit itu. Coba lakukan ini, (1) bacalah suatu tulisan yang referensi serta inspirasinya menggunakan salah satu dari ketiga komik Semit itu (Tanakh Alkitab Quran), (2) kemudian tanya serta jawab sendiri ini 'statemen serta proposisi ini semua sebetulnya merujuk ke mana?' dan juga 'apa rujukan itu bisa langsung dianggap sebagai realitas itu sendiri?'

-o0o-

Dalam agama Kristen sebagai salah satu Semit goblog itu misalnya, doktrinnya biasa disingkat TULIP di mana T-nya adalah 'total deprivity'. Dalam fantasi hasil rujukan Alkitab ini, Kristen-kristen ini membayangkan tentang kerusakan dunia yang maha-hebat, sedemikian hebatnya kerusakan itu sehingga hubungan manusia dengan si penciptanya pun putus. Kerusakan itu, dalam fantasi Kristen ini, disebabkan gara-gara dosanya si Adam itu yang kemudian otomatis juga mencemarkan semua anak keturunannya -- dus semua umat manusia, karena fantasi Kristen memang tidak mengenal arkeologi apalagi biologi-evolusionisme, jadi Cino sama Jowo pun yach dianggap sama-sama anaknya Adam & Hawa.

Masalahnya sekarang, apakah dunia ini memang 'rusak' beneran seperti apa yang dibayangkan oleh fantasi liarnya Alkitab itu?

Dalam agama Islam alias agama Semit goblog lainnya, dikenal doktrin 'Muhammad adalah nabi terakhir'. Ini secara nakal dan berani sekali dibantah oleh Ulil dari JIL itu. Katanya Ulil dalam syahadat itu yang ada hanyalah 'Muhammad sebagai nabi Allah' bukannya 'Muhammad sebagai nabi TERAKHIR-nya Allah'; bukankah syahadat adalah kontrak satu-satunya bagi seseorang untuk menjadi muslim? So, yang pasti-pasti saja, dalam kontrak berwujud syahadat itu si Muh tidak disebut sebagai nabi terakhir maka 'percaya' sama Ahmadiyah pun yach bisa saja dibenarkan!

Eniwe, debat model begitu tetap sama saja referensinya yaitu Quran Hadits Sunnah, dan problemnya pun sama saja, apakah benar bahwa si Muhammad itu dalam kenyataannya memang bisa dibilang adalah si nabi yang terakhir sebagaimana yang dimaui si allah? Ingat, sekali lagi ingat, semua kata di sana (Muhammad nabi allah) murni cuman merujuk ke Quran saja.

Dari dua contoh di atas itu, jelas problemnya adalah yang nomer 1 di atas (secara referensial eksis dalam bahasa, tapi tidak eksis di kenyataan). Muhammad, allah, adam, hawa, dunia rusak, dosa asal..., semua itu secara referensial hanya eksis di dalam kosa-kata bahasa sebagaimana dimuat di buku komik Alkitab & Quran. Konsep goblog atas dosa-dosaan ala Kristen misalnya, wong sudah jelas si Yahweh atau Tuhannya sendiri melanggar dosa dan hobby membunuh orang -- koq bisa-bisanya mau dibilang hebat dan 'benar', apalagi 'eksis di kenyataan dalam artian semua orang berdosa'.

Kedua korban agama Semit goblog ini sebetulnya statusnya tidak beda dengan modelnya seorang perempuan yang 'percaya' bahwa 'semua pria itu bajingan'. Si perempuan itu percaya begitu saja mitos tentang bajingannya semua pria itu; mungkin hasil dengar cerita ibunya atau mungkin juga dari hasil nonton kebanyakan sinetron picisan di TV. Yang pasti, buat si perempuan itu mitos 'pria bajingan' itu betul-betul adalah kenyataan buat dirinya. Sehingga, dia mau berhubungan dengan pria model apapun, isi pikirannya pun yach masih saja dikuasai oleh mitos tolol itu! Akibatnya, kasihanlah si perempuan itu karena otomatis dia yach cuman bisa bertemu serta mengenal pria-pria bajingan.

Sama saja dengan si Kristen! Otomatis mereka yach cuman bisa melihat serta kenal dengan orang-orang yang berdosa, wong si goblog-goblog pengikut Yesus itu percaya penuh bahwa orang-orang itu berdosa!

Tapi, bagusnya Kristen modern adalah karena sintingnya itu mereka simpan saja buat mereka sendiri di ranah-ranah pribadinya dan tidak mereka bawa ke ranah-ranah publik atau sosial. Kalau pun iya, maka sama si Kristen-kristen yach dibawa ke negara-negara goblog model Indonesia dalam praktek-praktek Kristenisasi ala misionaris itu. Sedangkan si muslim sialan ini, mereka ini masih belum mampu menyimpan mitosnya di ranah-ranah pribadi dan terus saja mereka bawa-bawa ke ranah sosial.

Kenapa? Yach sekali lagi, karena mereka ingin sekali melihat apa yang tidak eksis di kenyataan dibuat eksis! Mereka dengan Qurannya percaya bahwa Islam dan muslim itu bakal dimusuhi sepanjang jaman, nggak heran mereka pun lantas jadi bermusuhan sama orang-orang non-muslim di kanan kiri. Mereka percaya jihad melawan si kafir, nggak heran sikap mereka itu di mana saja jadi menyebalkan!

Dan lebih gila lagi, mereka itu masih saja percaya bahwa yang mereka lakukan itu 'benar' dan 'adalah kebenaran'!

Ini adalah bentuk konkrit tentang orang-orang yang memang tidak memahami kebenaran itu apa! Yaitu, kebenaran itu bukannya mutlak relatif mencla-mencle atau apa saja lah; melainkan selalu dan cuman bisa bersifat referensial.

JD

----------------

Klik:

1. Tentang Maat serta percikan konsep atas Maat itu dalam diri Yesus: http://touregypt.net/godsofegypt/maat2.htm

2. Tentang Nagarjuna: http://en.wikipedia.org/wiki/Nagarjuna

3. Tentang Zen & nen: http://members.core.com/~ascensus/docs/nen.html

4. Tentang emanasi: http://www.utm.edu/research/iep/e/emanatio.htm

5. Tentang paradoks Zeno: http://mathforum.org/isaac/problems/zeno1.html

6. Tentang sedekah dalam Judaisme: http://www.shemayisrael.co.il/publicat/hazon/tzedaka/Tzedakah_and_Hospitality.html





3.9.05

Debussy & Gamelan: Diskursus atas musik Barat/Timur

Tahun 1889 di Paris Claude Debussy kebetulan menghadiri pagelaran konser gamelan Jawa/Bali yang langsung membuka mata telinga serta keterarahan artistiknya secara pasti yang kemudian melahirkan impresionisme di dunia musik konser, terutama di Perancis. Terhadap gamelan Jawa/Bali sendiri Debussy berpendapat,
"Javanese music is based on a type of counterpoint by comparison with which that of Palestrina is child's play. And if one listens, without European prejudice, to the charm of their percussion, one must confess that ours is only a country fair racket."
Pemusik Indonesia yang serius biasanya dengan bangga menyodorkan fakta ini, yaitu pengaruh gamelan Jawa/Bali terhadap perkembangan musik konser Barat lewat Debussy. Dalam kenyataannya, Debussy sendiri memang mempengaruhi Stravinsky dan membuka jalan untuk Schoenberg serta komponis atonal lainnya. Gamelan Jawa/Bali sendiri secara musikal adalah musik yang paling murni dari pengaruh luar, baik struktur instrumennya maupun ekspresi artistik semuanya murni lahir dari Jawa/Bali sendiri.

Tanpa perlu didebat lagi, musik adalah bentuk seni yang paling populer di dunia. Hanya dalam seni musik ada fenomena seperti 'Top 40' yang secara periodik diolah. Di dunia ini pun ada banyak orang yang tidak mengerti, tidak mengenal dan tidak pernah membaca sastra; ada banyak juga yang tidak pernah masuk ke musium untuk menikmati karya lukis; banyak sekali yang rumahnya kosong melompong dari hiasan artistik secara seni. Tapi, praktis semua orang di dunia ini gila musik, mendengar musik dan di rumahnya memiliki perangkat buat memainkan musik. Dengan status paling populer ini maka seperti biasa, musik pun menjadi bentuk seni yang paling sedikit dimengerti. Kebanyakan orang merasa musik itu cukup didengar saja dengan kuping, dan tidak perlu dipahami secara intelektual. Atau, kalau pun mau dipahami, maka konteksnya dikaitkan dengan isi lirik vokalnya, bukannya pemahaman atas ekspresi intelektualitas di baliknya. Tapi perlu ditegaskan sekarang bahwa musik tidaklah berbeda dengan bentuk ekspresi kultural lainnya. Musik, sebagaimana filsafat, seni rupa, seni lukis, juga sangat terpengaruh oleh lingkungan kanan kirinya. Potongan pengaruh lingkungan itulah yang kemudian secara tersurat diungkapkan melalui filsafat, seni lukis, seni rupa, dan juga musik. Dengan demikian, intelektualitas atas karya musik pun tidak bisa dilepaskan atas pemahaman si komponis atas dunia di sekitarnya.

Gara-gara hanya cenderung dinikmati tanpa dipahami, maka diskursus atas musik dalam kedudukannya sebagai ekspresi intelektual pun langsung menjadi subyek yang sulit dan kompleks. Karena itulah essai dan diskursus ini pun perlu membatasi diri secara spesifik. Yaitu, kenapa Debussy bisa terpengaruh oleh konser gamelan di Paris waktu itu? Dari sisi Debussy atau tradisi musik Barat waktu itu, apakah latar belakangnya sehingga Debussy pun terkejut waktu mendengar struktur bunyi dan komposisi gamelan? Dan dari sisi intelektualitas-musikal gamelan itu sendiri, apakah yang sebetulnya ditawarkan olehnya ke Debussy?

Saya sendiri secara pribadi berharap bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa secara langsung meningkatkan apresiasi musikalitas Anda terhadap gamelan itu sendiri. Dan secara lebih luas lagi, membuka pemahaman Anda atas perbedaan kultural Barat-Timur melalui ekspresi musikalitasnya.

---o0o---

Pertama-tama lebih baik mulai dari sesuatu yang visual. Nah, perhatikan lukisan dalam gaya tradisional Bali di bawah ini:



dan bandingkan dengan standar lukisan Barat seperti 'The Last Supper'-nya Leonardo Da Vinci ini:

Lukisan Da Vinci, Last Supper


Sekarang saya ingin Anda berhenti membaca sejenak dan menyimak kedua lukisan itu baik-baik sebelum terus membaca. Kemudian coba jawab pertanyaan ini: dari sisi serta perspektif atas ekspresi artistik, apakah perbedaan(-perbedaan) utama yang menyolok dari kedua lukisan itu? Cobalah menjawabnya sendiri sebelum Anda meneruskan membaca.

---o0o---

Saya yakin Anda tentu sudah menemukan beberapa perbedaan penting dalam tehnik representasi yang digunakan. Anda mungkin sudah melihat bahwa lukisan tradisional Bali itu cenderung men-dua-dimensi, sementara Da Vinci men-tiga-dimensi. Juga keberadaan Yesus sebagai titik sentral dalam lukisannya Da Vinci, sementara lukisan Bali itu sendiri tidak memiliki serta tidak mengartikulasikan titik sentral yang tertentu, melainkan hanya membagi ruang di dalam kanvas secara setara. Lihat lagi, maka Anda bisa melihat bahwa lukisan Da Vinci itu sangat menomor-satukan keberadaan si subyek --dalam hal ini Yesus-- dan menggunakan sisi-sisi kanvas lainnya untuk lebih menopang serta mempertajam keberadaan si subyek; sementara lukisan Bali itu sendiri tidak memiliki satu subyek pun yang secara individual ingin diartikulasi serta diekspresikan.

Dalam satu penjelasan yang menyeluruh dan singkat, lukisan Barat itu tematis dan lukisan Bali itu non-tematis. Nah, Anda yang hobby fotografi atau menggunakan photoshop, pasti bisa langsung mengkritik lukisan Bali itu. Kenapa? Yach karena presuposisi serta filsafat di balik design komposisional fotografi maupun photoshop dari sononya sudah Barat-sentris. Jadi tidak heran kalau tema pun dinomor-satukan dan sedapat mungkin harus ditopang oleh elemen-elemen lainnya di dalam kanvas. Silakan Anda melihat situs-situs lukisan Barat serta Timur di internet dan gunakan perspektif tematis serta non-tematis itu untuk melihatnya.

Tematis memang merupakan ciri utama alam pikiran Barat. Non-tematis buat alam pikiran Barat hanya bisa berarti satu, yaitu chaos atau kacau. Syarat utama untuk menjadi tematis sendiri adalah eksistensi serta artikulasi atas suatu subyek yang dalam sastra biasa disebut lakon utama.

Dari lukisan sekarang ke sastra. Coba jawab, siapakah subyek atau lakon utama dalam karya-karya Timur ini: Mahabarata, Ramayana dan Samkok? Maka jawabnya, yach tidak ada! Ketiga karya sastra Timur ini memiliki terlalu banyak sub-cerita, sebagaimana lukisan Bali di atas memiliki terlalu banyak subyek tanpa ada satu pun yang menonjol. Mungkin Anda mengatakan bahwa lakon utama dalam Ramayana adalah Rama dan Sinta. Keliru! Karena dengan mensubyektifitaskan keberadaan Rama dan Sinta, Anda menomor-duakan eksistensi Hanoman, Kumbakarna dan Wibisana yang subyektivitas kelakonannya pun sangat ditegaskan serta diartikulasikan di dalam sastra Ramayana itu. Mahabarata pun sama saja. Mereka yang terbuai untuk mensubyektivitaskan kelakonan Pendawa Lima telah meremehkan subyek penting lainnya seperti Bisma sebagai inkarnasi Wisnu, atau pun dilema yang dialami oleh Karna.

Sekarang coba jawab juga, siapakah subyek atau lakon utama dalam Othello-nya Shakespeare? Nah, ini gampang sekali dijawab! Yaitu yach si Othello sendiri, sebagaimana Shakespeare pun telah mengisyaratkannya melalui judulnya! Dalam drama Othello itu ada si busuk Iago yang mulut serta lidahnya bercabang karena hatinya iri melihat kesuksesan si Moor berkulit hitam Othello yang sukses di militer Inggris. Lantas ada si perawan ting-ting Desdemona yang sangat mencintai si Othello tapi akhirnya mati gara-gara Othello berhasil disesatkan oleh lidah ularnya Iago. Lihat lagi, siapakah subyek atau lakon utama dalam 1984-nya Orwell? Yach si Winston. Siapakah subyek atau lakon utama dalam L'etranger-nya Camus? Yach si Meursault. Siapakah subyek atau lakon utama dalam Oedipus Rex-nya Homer? Yach si Oedipus sendiri. Sebagaimana kelihatan dalam lukisan Da Vinci di atas, eksistensi semua sub-lakon atau sub-tema dalam sastra Barat selalu memiliki keterkaitan yang kuat serta menopang eksistensi si lakon utama.

Tematis. Subyek-sentris. Tema-sentris. Sekali lagi, ini semuanya adalah ciri-ciri intelektualitas kebudayaan Barat. Teologi agama Kristen sebagai agama Barat pun persis sama juga presuposisinya. Kristen-kristen itu gemar membayangkan si Allah Bapak lagi mendalangi semua kejadian di dunia ini melalui doktrin yang namanya predestinasi, dan lakon utamanya sendiri dalam sejarah manusia versi Kristen-Barat ini adalah si Yesus sendiri. Yesus adalah subyek utama dalam pikiran teologis-historis para bule ini. Yesus menciptakan dunia (dalam eksistensinya sebagai logos-nya si Allah Bapa), menyelamatkan dunia dan kelak menghabisi musuh-musuhnya di hari terakhir sejarah manusia, di hari kiamat. Plot, struktur skenario, jalan pikiran teologis-historisnya Kristen-Barat ini betul-betul mirip pleq dengan struktur intelektualitas Barat sendiri. Wong memang Kristen adalah produk kulturalnya Yunani yang adalah Barat! Tapi coba lihat agama Buddha, siapakah subyek serta tema sentralnya? Yach praktis tidak ada! Karena kalau semua orang bisa serta berpotensi mencapai Boddhisatva -- alias bisa menjadi lakon juga, yach itu berarti tidak ada lakon sama sekali! Tapi coba, mana ada orang yang bisa jadi Yesusi dalam alam pikiran subyek-sentrisnya Kristen-Barat? Jelas tidak ada! Individualitas subyek itu sedemikian kuatnya sehingga posisi non-subyek pun tak dapat menggantikannya.

Tematis. Subyek-sentris. Tema-sentris. Gunakan ini untuk melihat alam filsafat Barat Timur sekarang. Dan coba jawab, apakah temanya Taoisme? Siapakah lakon di dalam Taoisme? Orang Barat sampai hari ini pun masih mencari-cari jawabannya di dalam Tao Te Ching seperti orang buta mencari jarum di padang pasir. Mereka bilang Tao adalah lakon serta subyek utama dalam filsafat Laozi. Tapi kasihannya, Laozi sendiri bilang bahwa Tao itu cuman nama-namaan untuk merujuk ke si subyek yang tidak bisa dirujuk itu. Subyek itu eksis, tapi eksistensinya hanya bisa terlihat serta terekspresikan melalui si non-subyek. Karena itulah paling tidak Laozi bisa merujuk ke orang-yang-bertao. Bandingkan pikiran ini dengan pikiran Kristen yang Yesus-sentris alias tema-sentris itu; maka situasinya pun terbalik menjadi eksistensi si subyek itu telah hadir dalam diri Yesus, dan posisi si non-subyek pun hanyalah di periferi saja. Surga nunut neraka katut. Coba lihat juga filsafat Yunani Kuno sebagai kontemporeritasnya Laozi, dan kemudian tanya siapakah tema serta subyek utamanya? Simple, yaitu ada. Socrates, Plato & Aristoteles ini pun kemudian membedah ada tadi dari sisi metafisika, ontologi, epistemologi; bahkan mereka pun juga gemar mempelajari retorika -- alias cara berbicara dan diskursus tentang ada itu sendiri.

Tematis. Subyek. Sentris. Non.

Secara sengaja saya menggunakan keempat kata itu agar Anda memahami kontras alam pikiran serta budaya Barat-Timur secara menyeluruh. Yaitu, alam pikiran serta budaya Barat bersifat tematik, subyektif, tema-sentris dan subyek-sentris. Sementara Timur sendiri secara antagonistik bersifat non-tematik, non-subyektif, non-tema-sentris dan non-subyek-sentris.

Kenapa koq yang Timur itu semuanya diawali dengan non yang negatif dan menegasi si Barat? Nah, ini perlu dijawab.

Karena, essai ini mau melihatnya dari sisi Barat, sisi Debussy dan sisi tradisi musik Barat. Sehingga, artikulasi atas sifat Timur yang non-Barat pun harus diartikulasikan. Bukan karena isi pikiran Timur tidak bisa diekspresikan secara positif. Juga bukan karena Timur secara sengaja diantagoniskan dengan Barat. Namun, non itu hanya digunakan sebagai kontras. Barat itu hitam, Timur itu non-hitam -- karena di sini kita ingin memahami Timur dari perspektif si Debussy yang Barat. Dan pada akhirnya, kontras itulah yang memukau Debussy. Kontras, berarti secara setara berbeda; bukannya secara tidak setara hanya mau membeda!

Sampai di sini kita telah melihat keberadaan serta sifat alam pikiran serta budaya Barat yang sangat dikuasai oleh ideologi tema-sentris. Ideologi tema-sentris inilah yang kemudian menyebar terekspresikan melalui lukisan, sastra, filsafat, agama, teater, drama, arsitektur dan segala sesuatu yang pokoknya Barat.

Nah, sekarang kita kembali ke subyek utama essai ini, yaitu musik. Pertanyaan kuncinya ialah: apakah ideologi Barat yang tema-sentris ini pun terekspresikan dalam musik Barat?

---o0o--

Iya! Musik Barat pun itu tema-sentris dan subyek-sentris. Kesejarahan musik konser Barat sendiri secara intelektual dapat dilihat dari sudut sebagai pendekatan serta perbedaan persepsi atas penanganan serta pemahaman dalam mengekspresikan tema.

Dengan demikian, coba apa persamaan serta perbedaan Johann Sebastian Bach dedengkotnya komponis Baroque dengan Mozart sebagai komponis di jaman klasik? Nah, persamaannya ialah mereka sama-sama tema-sentris; perbedaannya sendiri ialah cara serta tehnik mereka dalam mengeksposisikan tema itu sendiri.

Dunia musik konser sendiri juga mengenal format, seperti passacaglia, fugue, sonata form, rondo, menuette-trio-menuette, theme & variations, dst. Tanya lagi, apa persamaan serta perbedaan semua format-format musik ini? Sekali lagi, persamaan semua format itu adalah tema-sentris. Perbedaannya, format-format itu secara eksplisit menuntut penanganan atas tema itu sendiri secara berbeda-beda. Fugue misalnya, harus selalu dimulai oleh eksposisi tema secara satu-suara oleh salah satu suara (soprano, alto, tenor, bass), dan kemudian tema yang sama pun harus digemakan oleh suara-suara lainnya. Rondo sendiri mengambil format ABACADA di mana A adalah tema utamanya, sedangkan BCD merupakan varian-varian yang harus diarahkan ke A lagi sebagai tema utamanya. Theme & variations sendiri sudah jelas sekali tema-sentrisnya. Awalnya selalu dimulai oleh tema, kemudian variations-nya menvariasi chord yang digunakan oleh tema tadi.

Nah, tema dalam musik sendiri terbangun dari satuan unit yang biasanya disebut frase. Ambil contoh sederhana. Coba nyanyikan lagu 'Happy Birthday', maka baris 'happy birthday to you' yang pertama itu adalah satu frase. Sementara baris 'happy birthday to you' keduanya adalah frase jawaban terhadap frase yang pertama. Lantas frase ketiganya sendiri merupakan gabungan dari dua unit frase identik yang diulang dua kali 'happy birthday, happy birthday' . Frase ketiga ini juga bisa disebut sebagai cadence, yang berfungsi untuk menjembatani antara frase-frase sebelumnya dengan frase penutupnya. Struktur melodi di dalam frase-frase di lagu 'Happy Birthday' ini biasanya disebut conjunct, karena jarak dari satu not ke not selanjutnya itu kecil-kecil. Sehingga kalau didiagramkan secara visual, jadinya pun akan kelihatan seperti riak-riak kecil yang berdempetan dengan garis lurus ditengahnya sebagai pusat melodinya. Lawannya conjunct sendiri otomatis disebut disjunct. Contohnya kayak frase pertama di lagu 'Love Story' dari filmnya Ryan O'Neal itu. Nyanyikan liriknya 'where do I begin', maka Anda bisa merasa sendiri betapa jauhnya jarak not dari where turun ke do I dan terus naik lagi ke begin. Frase ini kalau didiagramkan akan kelihatan seperti huruf V. Struktur anatomis dari frase-frase di lagu Happy Birthday itu sendiri disebut puitis atau poetic. Kenapa? Karena sistem metrisnya memang setara semua seperti suatu baris-baris puisi. Senandungkan melodinya lagi dan perhatikan anatomi frasenya yang puitis itu; maka Anda bisa langsung melihat struktur 6-6-4-4-6. Nah, lawannya jenis struktur anatomi dari frase yang puitis yach otomatis adalah prosaik seperti juga essai ini pun adalah prosa. Artinya, struktur serta anatomi ritmik frasenya atau kalimat-kalimatnya itu tidak beraturan seperti puisi. Contoh musiknya buat ini adalah Yesterday atau pun Hey Jude-nya The Beatles. Senandungkan melodinya, maka Anda bisa melihat frase yang 3-9 di awalnya Yesterday itu. 3-nya itu adalah yes-ter-day; dan 9-nya yang langsung mengikuti ke-3 note tadi adalah 'all my trou-ble seemed so far a-way'. Bisakah Anda mengamati sisi prosaiknya itu?

Sampai di sini secara singkat kita sudah melihat beberapa karakteristik umum atas frase-frase tematik di dalam tradisi musik barat. Yaitu: melodinya conjuct atau disjunct, struktur anatominya sendiri poetic atau prosaic. Perubahan dari frase satu ke frase lainya sendiri biasa ditandai oleh perubahan chord atau jatuhnya ketukan ritme. Satu hal lagi yang eksis di dalam contoh-contoh itu, tapi karena saking subtilnya dan letaknya yang ada dibelakang, maka orang awam tidak akan pernah bisa menyadarinya. Nah, hal yang subtil itu namanya adalah karakteristik tonal-musik yang tonal-sentris. Tonal di sini merujuk ke tangga nada yang digunakan. Secara harmoni, musik Barat yang bertendensi tonal itu bisa dipersepsi sebagai perjalanan dari tonic kembali ke dirinya lagi. Kalau Anda tahu teori, ini kelihatan dari siklus circle of fifth yang secara siklis berputar kembali ke dirinya.

Tapi kalau Anda asing dengan teori musik, namun paling tidak bisa baca not balok, atau not angka atau pun main satu instrumen misalnya; maka perhatikan ini, tidakkah Anda sadar bahwa setiap lagu yang dimainkan di tangga nada C misalnya, maka lagu itu awal dan akhirnya pun juga selalu di chord C. Itu kalau tonicnya C. Kalau tonicnya Am, maka awalnya yach di Am dan jreng terakhirnya pun juga di Am. Semua contoh lagu di atas itu pun juga seperti itu! Yaitu: tonal-sentris.

Tonal-sentris ini juga bisa dilihat dari relasi intensional diantara frase-frase tematik yang satu dan yang lainnya. Tidak percaya? Tidak bisa melihat relasi intensional itu? Okey, senandungkan lagi frase pertama Happy Birthday itu. 'Hap-py birth-day to you'. Untuk frase keduanya, gantilah nada-nadanya! Jangan gunakan frase kedua sebagaimana yang kita tahu, tapi senandungkan sendiri entah melodi apa saja seperti yang Anda maui sesuka Anda. Carilah kelanjutan lain yang melodinya beda dengan frase yang kita kenal, kalau perlu chordnya pun betul-betul beda dengan yang lagu aslinya.

Apa yang Anda lakukan ini pada dasarnya adalah mengalterasi relasi dari frase pertama dengan frase kedua di lagu Happy Birthday itu. Dan mendadak saja lagu yang kelihatannya sedemikian sederhana dan gampangnya pun menjadi susah dan kompleksnya bukan main! Kenapa? Karena waktu Anda mau mengalterasi frase kedua itu, Anda telah mencoba-coba untuk merubah intensionalitas frase tematik yang pertama! Yang mendadak Anda sadari adalah tirani tata-bahasa (atau harmoni) musik di sana. Sebagaimana juga gara-gara keberadaan tirani tata-bahasa Indonesia yang eksis dibalik setiap frase bahasawi, maka saya pun tidak bisa menerjang tirani tata bahasa itu begitu saja dan bilang "cinta men-i aku mu' tapi harus 'aku mencintaimu'. Musik pun sama saja! Relasi dari frase tematik pertama dari 'Happy Birthday' itu dengan relasi keduanya, meski kelihatan sealamiah ungkapan 'aku mencintaimu' sebetulnya telah terintervensi, terdeterminasi dan terkekang oleh tata bahasa! Dalam relasi alamiah tata bahasa Indonesia, maka kata aku pun menjadi subyek yang harus selalu diikuti oleh kata kerja dan jika itu memang kata kerja transitif, maka obyeknya pun harus diletakan setelah kata kerja tadi. Sekali lagi, artinya, intensionalitas dari setiap elemen bahasa itu pun telah ditetapkan sedemikian rupa untuk bisa menjadi berarti. Sekarang senandungkan lagi frase-frase dari lagu pendek Happy Birthday itu, dan konsentrasikan perhatian secara penuh Anda terhadap kealamiahan relasi-relasi yang ada dari satu frase ke frase selanjutnya. Coba untuk mengalternasi relasi frase-frase itu. Maka pada akhirnya, yang Anda sadari adalah relasi diantara frase-frase tematik itu yang ternyata intensional; sebagaimana subyek harus diikuti oleh kata kerja dalam tata bahasa biasa.

Dan intensionalitas harmoni itu adalah problem! Karena itu berarti ada tirani yang harus didobrak!

Nah, selamat! Sekali Anda mengerti ini maka Anda sudah mengerti tantangan apa yang dihadapi oleh setiap komponis yang ingin secara kreatif tampil mengejutkan. Sampai di sini, mudah-mudahan Anda sudah mengerti maksud saya di atas waktu saya di atas itu mengatakan "kesejarahan musik konser Barat sendiri secara intelektual dapat dilihat dari sudut sebagai pendekatan serta perbedaan persepsi atas penanganan serta pemahaman dalam mengekspresikan tema.

---o0o---

Orang modern di jaman ini otomatis cenderung memiliki intelektualitas yang bersifat Barat. Alias mengagung-agungkan tema-sentrisme. Karena itulah, secara artistik pun mereka cenderung melihat non-tema-sentrisme sebagai kacau yang perlu diberantas. Padahal, tema-sentrisme pun punya segudang problem yang secarang singkat bisa dijelaskan dalam satu kata, yaitu picik. Di sini kita berbicara seni, maka sekarang lihat lagi piciknya tema-sentrisme itu secara visual dulu. Sekarang bandingkan seperempat potongan kanan atas lukisan tradisional Bali yang ini:




dengan seperempat potongan kanan atasnya Da Vinci ini:



Ajaib khan! Lukisan Bali yang non-tematis itu bisa tetap penuh dan hadir sebagai lukisan yang penuh, sementara lukisan tematik dari Da Vinci begitu dipotong malah langsung kedodoran kelihatan jelas ada bagian tertentu yang telah hilang. Nah, fenomena ini pun juga nyata di semua bentuk ekspresi-ekspresi seni Barat/Timur. Anda yang hobbi nonton wayang pasti tahu tentang Arjuna Wiwaha yang sering dipagelarkan secara tunggal meskipun cerita itu sendiri sebetulnya adalah bagian dari cerita besar Mahabarata. Sama juga dengan sastra Cina model Samkok atau Sun Go Kong (Perjalanan ke Barat) yang bisa dipotong-potong, diceritakan secara parsial, tapi anehnya yang parsial cuman sepotong itu bisa tetap hadir secara penuh; persis seperti potongan lukisan tradisional Bali di atas.

Sekarang coba Anda lakukan dan coba sendiri hal ini di musik! Nah, nyanyikan Happy Birthday lagi tapi jangan mulai dari lirik yang pertama, tapi mulailah langsung dari yang kedua. Sehingga syairnya pun menjadi 'Hap-py Birth-day to you; hap-py birth-day hap-py birth-day; Hap-py Birth-day to you'. Nah, terasa tidak bahwa ada kejanggalan komposisional & intelektual begitu Anda memotongnya begitu? Persis sama seperti lukisannya si Da Vinci itu langsung kelihatan ketidak-lengkapannya begitu kita potong. So, Anda tahu lagu Suwe ora jamu yang melodinya menggunakan pentatonik Jawa itu? Syairnya begini: Suwe ora jamu, jamu pegel linu; suwe ora ketemu~dst. Nah, sama seperti yang kita lakukan terhadap lagu Happy Birthday sebelumnya, buang lirik pertamanya dan langsung mulai bersenandung dari jamu pegel linu. Di jamin Anda tidak akan mendengar seperti ada sesuatu yang janggal di potongan itu!

Coba berfilsafat sedikit. Eksposisi ini sebetulnya merupakan implementasi langsung dari filsafat Jawa melalui ekspresi-ekspresi artistik seni musik, sastra & lukis. Apa yang Anda lihat itu sebetulnya identik dengan apa yang dimaksud oleh istilah model manunggaling kawulo gusti atau pun menyatunya mikro & makro kosmos di dunia. Bayangkan kanvas itu sebagai dunia makro-kosmos, lalu potonglah kanvas itu secara imajiner menjadi misalnya 1/2 1/3 1/4 atau 1/5, maka potongan itupun langsung terlihat menjadi si mikro-kosmos di dunia kanvas tadi lengkap dengan individualitasnya sendiri yang terpisah tapi sekaligus menyatu dengan si makro-kosmosnya sendiri. Kaitkan ini dengan tema sebagai dimengerti di photoshop, fotografi atau pun dunia serta teori lukis Barat; maka sesungguhnya yang terlihat itu bukanlah kacau atau chaos seperti kesan pertama waktu mata Barat melihatnya, melainkan gejala multi-tematik.

Dan musik gamelan pun sama saja, yaitu secara serentak tema-tema itu hadir bersama. Tidak heran Debussy pun bilang ke temannya:
To Pierre Louis, 22 January 1895
But old fellow ! Remember the Javanese music which contained all shades of sound, even the ones that are beyond naming, compared to which tonic and dominant where nothing but vain fantoms to frighten naughty little children. [http://gamelan.free.fr/Debussy.htm]

Lihat lukisan Barat yang tipikal, maka mata Anda pun akan langsung terpaku ke tema tunggal yang ada di sana. Dengarkan musik Barat yang tipikal, maka kapan saja telinga Anda akan langsung bisa mendengar dan mengidentifikasi distingsi satu tema tunggal yang menonjol. Baca sastra Barat yang tipikal, maka Anda bisa melihat perkembangan seorang lakon tunggal di sana. Ini semua adalah rangkuman general dari pengalaman umum saat kita berhadapan dengan satu karya seni Barat. Dengan demikian, orang yang pengalaman artistiknya terbatas di dunia Barat pun bakal langsung menpostulasikan dan mengabsolutkan pengalamannya itu sebagai satu-satunya metode untuk setiap ekspresi artistik.

Orang itu yach seperti Debussy sendiri. Untungnya, Debussy sendiri sudah punya telinga yang terlatih waktu mendengar gamelan Jawa, dan juga, dia pun lagi mencari-cari cara serta metode baru untuk mengekspresikan artistiknya agar bisa betul-betul menjadi Perancis. Tidak seperti si Jerman Beethoven Brahms Mozart, tidak juga seperti idiom-idiom musikal opera Itali. Tapi, sesuatu yang betul-betul Perancis. Di atas itu Debussy mengatakan bahwa (chord-chord) tonik & dominant itu cuman buat nakut-nakutin anak kecil saja. Nah, Anda yang bisa main instrumen bisa melihat sendiri kekangan harmoni yang baku itu. Jadi, lagu yang Anda mainin itu chordnya selalu saja muter-muter di
-chord C sebagai toniknya,
-terus ke chord G sebagai dominannya C,
-terus ke D sebagai dominannya G,
dan seterusnya menjadi circle of fifth yang langsung tampak kayak mainan anak-anak begitu Debussy mendengar musik Jawa. Hal kedua yang tidak kalah pentingnya, tentu saja, adalah keterbukaan intelektualitasnya Debussy sendiri terhadap hal-hal baru! Tidak semua orang intelek atau terpelajar itu pikirannya terbuka terhadap ide-ide baru! Misalnya, Rimsky-Korsakov itu gurunya Stravinsky dan keduanya sama-sama komponis Rusia yang penting. Stravinsky yang lebih muda itu kelak sangat terpengaruh oleh ide-ide musikal Debussy, tapi Rimsky-Korsakov sendiri menasehati Stravinsky: "Jangan dekat-dekat dengan musiknya Debussy, nanti bisa-bisa kamu tergoda untuk menyukainya!" Akhirnya Stravinsky sendiri bukannya cuman menyukainya saja, namun bahkan juga terpengaruh!

---o0o---

Sekarang kita sudah waktunya mendengar musik. Ngomong musik tanpa musik yach aneh! Tapi seperti Anda tahu, saya di sini mengalami keterbatasan media karena tidak mungkin menyisipkan file-file musik. Untung ada Amazon, dan meski sangat tidak komplit tapi bisa memberikan secuil gambaran umum. yach Anda bisa beli cari atau download sendiri. Atau, bisa juga cari midinya di situs http://www.classicalarchives.com yang isinya hampir komplit! Di sini saya akan memberikan (1) daftar lagunya dan (2) apa yang harus Anda dengarkan secara intelek di lagu itu!

(1) Beethoven, Symphony no5 in Cm, movement pertama 'Allegro con Brio'
Klik klip Amazon dengan Windows Media, tapi kalau linknya putus lihat situsnya, atau bisa juga dengar midinya setelah mendaftar di www.classicalarchives.com. Simfoni Beethoven nomer lima ini terkenal sekali karena (1) hanya dengan 4 melodi di awal sekali Beethoven sudah bisa langsung mengintrodusir tema dasar buat keseluruhan movement pertama itu; (2) karena temanya cuman merupakan gabungan dan terdiri dari empat melodi, maka praktis ini adalah salah satu dari sedikit musik Barat yang temanya terpendek! Cuman dengan 4 not Beethoven sudah bisa membuat tema yang menjadi pusat utama movement pertama itu; (3) meskipun Beethoven hidup di jaman klasik, simfoni nomer lima itu sangat romantis dalam artian sangat individualistis, singkatnya yach melampaui jamannya; (4)
Nah, secara intelek yang harus Anda dengarkan adalah (1) sentralitas dari tema itu sepanjang musiknya, sebagaimana Yesus menjadi sentralitas tematik utama di lukisannya Da Vinci di atas; (2) pusatkan perhatian Anda dalam caranya Beethoven mengolah tema itu secara prosaik; seperti waktu kita di SD dikasih tema model 'hari liburku' dan disuruh mengarang, maka tentu saja panjang pendeknya dalam dangkalnya itu semuanya tergantung sama kreativitas si anak, iya khan. Nah, di sini pun sama saja. (3) sama seperti aktivitas anak SD, coba ambil temanya Beethoven yang cuman terdiri dari 4 melodi itu dan senandungkan musik karangan Anda sendiri berdasarkan tema itu. Saya rasa pengalaman Anda berhadapan dengan sulitnya mengolah tema itu, bakal berbanding lurus dengan apresiasi Anda terhadap karyanya itu sendiri.

(2) Mozart, Theme & Variation on "Ah, Vous dirais-je, Maman"
Temanya lagu ini sangat populer yaitu 'Twinkle-twinkle Little Star' kalau di Inggris atau 'ABCDE' kalau di Indonesia. Dengar midinya atau lihat situsnya di Amazon dan cari dengan kata maman.
Format 'theme & variations' ini persis dengan formatnya jazz. Dengarkan jazz mana saja, maka strukturnya selalu: (A) melodi utamanya atau themenya dimainkan, (B) pemain A mulai improvisasi atau kalau solo yach langsung improvisasi sendiri, (C) pemain B improvisasi selanjutnya, dst sampai (Z) melodi atau theme utamanya itu dimainkan lagi sebagai penutupan. Struktur ini mirip dengan Chaconne (tarian Spanyol kuno), kayak karyanya Bach: Chaconne inDm buat biola solo.
Sentralitas tema di karya ini yach jelas adalah melodi serta chord yang dipakai di lagu 'Twinkle-twinkle Little Star' itu. Karena itu, waktu Anda mendengarkan variasi-variasi dari tema itu, senandungkan lagu ABCDE itu. Dijamin Anda bisa melihat relasi dari variasinya dengan tema dasarnya tadi.

(3) Bach: pengembangan tema dengan counterpoint ala Fugue, invention, sinfonia, dst.
Pertama, fugue itu bacanya fyuk. Fugue adalah format komposisinal yang sangat rumit, sangat sulit dibuat, sangat matematis dan sangat intelek. Saking sulitnya tehnik komposisi fugue, maka rata-rata fugue menjadi kering dari perasaan. Dan orang pun membuat fugue murni cuman buat latihan komposisi sebagaimana orang menggambar anatomi bukan untuk dipamerkan, tapi cuman buat latihan menggambar saja. Beethoven misalnya, setengah mati menyelesaikan fuguenya. Karena itulah, hebat serta jeniusnya Bach adalah karena dia bisa tetap ekspresif secara musikal meskipun komposisinya sendiri dikekang oleh aturan-aturan kakunya fugue.
Saya yakin Anda yang betul-betul buta tentang makna format komposisi di dalam musik klasik tentu bakal bertanya-tanya sekarang, "Kenapa harus mengikuti aturannya? Labrak saja kenapa sih?" Nah, saya kasih contoh. Saya memegang buku tebal dan Anda pun bisa melihat judulnya 'Da Vinci Code'; terus saya bilang kepada Anda, saya suka sekali puisi-puisi di cerpen 'Da Vinci Code' ini. Sebagai orang yang waras yach sudah tentu Anda pun bakal langsung kaget dan bilang "Eh..., tolol banget sih! Kamu itu khan sedang membaca novel bukannya cerpen! Lagian, kalaupun itu memang cerpen, maka yach sudah pasti bentuknya itu prosaik bukannya puisi!" Iya khan? Nah, kenapa Anda bisa bilang begitu? Yach karena Anda sudah sadar tentang kategori-kategori cerpen, novel, prosa itu seperti apa. Anda sadar formatnya cerpen itu tidak bisa 1000 halaman, sedangkan formatnya novel tidak bisa cuman 10 baris. Anda tahu bahwa cerpen dan novel harus sama-sama prosaik, sedangkan puisi punya tempat serta sendiri yang sangat berbeda dari cerpen atau pun novel. So, kalau Anda mengerti ini, maka di tradisi musik pun yach sama saja; fugue, symphony, sonata, cantata, oratorio, bourree, dst, ini semuanya adalah format dan bukannya judul, sehingga karena mereka adalah format, yach otomatis mereka pun punya aturan-aturan sendiri yang tidak bisa seenaknya dilanggar. Kalau pun sengaja mau dilanggar, yach sudah pasti diketawain orang. Sebagaimana sudah nyata-nyata 'Da Vinci Code' itu novel koq mau dibilang puisi atau pun cerpen!
Nah, aturan fugue adalah (1) distribusi tema melodi ke semua suara, (2) harus selalu diawali oleh eksposisi tematik secara solo atau satu suara saja, (3) dan barusan kemudian diikuti oleh suara-suara selanjutnya. Dengarkan sekarang Invention pertamanya Bach yang hanya menggunakan dua suara saja. Ini yang harus Anda dengar secara aktif: (1) ikuti eksposisi tema awalnya dari pertama kali sekali oleh suara pertama, (2) perhatikan bagaimana tema awal itu dimainkan oleh suara keduanya. Satu hal penting tentang mendengar counterpoint ialah Anda harus merubah kebiasaan Anda dalam mendengar musik. Mungkin Anda tidak sadar akan hal ini, tapi silakan tes dan buktikan sendiri hal ini: setiap kali Anda mendengar musik --katakan saja Yesterday-nya Beatles-- maka secara selektif telinga Anda itu hanya mendengar nada yang tertingginya saja, alias melodinya saja. Secara selektif telinga Anda akan mengabaikan bassnya, altonya dan tenornya. Ini tentu saja bisa dimaklumi, karena memang itulah ciri-ciri musik pop, termasuk semua tradisi musik Barat setelah jaman baroque, jamannya Bach. So, untuk bisa menikmati musik jaman baroque, kebiasaan ini harus dibuang dan tidak bisa dipakai lagi karena pengertian atas melodi di jaman baroque dan jaman sesudahnya memang beda. Status melodi dalam setiap karya musik di jaman pasca-baroque adalah seperti primadona utama di opera. Melodi di jaman pasca-baroque sudah pasti harus selalu diaksentuasi dan letaknya pun hampir selalu di pitch atau nada yang tertinggi; sementara fungsinya bass pun hanyalah untuk lebih menggaris-bawahi melodi di atasnya tadi. Di jaman baroque sendiri, konsep ini tidak berlaku sama sekali karena buat jaman baroque, melodi alias tema itu selalu didistribusi secara rata ke semua lapisan suara; bisa di atas (sopran), bisa di bawah (bass) dan juga bisa pas di tengah (alto/tenor). Nah, dengarkan lagi invention pertama tadi, dan dengarkan juga invention keempatnya Bach.
Setelah mendengar dua suara, sekarang coba dengarkan tiga suara sekaligus melalui sinfonianya Bach! Ini bakal lebih rumit karena dari awal sekali Bach sudah menggunakan 2 tema secara serentak, yang kemudian dipilin-pilin ke atas bawah seperti kepangannya perempuan. Relasi kedua tema ini tidak bisa dilihat sebagai melodi-bass, tapi harus didengar sebagai melodi_atas-melodi_bawah karena nanti yang atas itu bakal keluar lagi di bawah sementara yang bawah keluar lagi di atas. Seperti sinfonia pertama ini, atau juga yang ketujuh.
Nah, sekarang coba dengarkan fugue yang betul-betul buat empat suara sekaligus. Dengarkan Toccata & Fugue inDm ini (fuguenya mulai dari menit ke 02:48, menit 00:00-02:47 sendiri adalah toccatanya); karya ini seharusnya dimainkan oleh organ tapi saya nggak bisa menemukan midinya, jadi terpaksa menggunakan link yang dimainkan sama piano itu. Akibatnya, pada awalnya bakal banyak bunyi yang terasa hampa karena piano tidak bisa men-sustain bunyi selama organ atau biola. Eniwe, dengarkan melodi awalnya dan kemudian secara aktif ikuti melodi awal itu digemakan di atas, di tengah dan di bawah secara periodik. Semua link itu saya ambil dari situsnya Bach yang bisa Anda download sendiri.

---o0o---

Secara pendek dan sederhana, semua contoh musik di atas itu tujuannya adalah untuk menunjukan dominasi doktrin utama dalam tehnik komposisi musik di Barat yang tema-sentris itu. Jaman berubah, tapi doktrin tema-sentris itu tetap tinggal. Yang berubah hanyalah persepsi dalam menangani tema itu sendiri. Ambil contoh teologi Kristen misalnya, persepsi atas Yesus bisa jadi berubah-ubah artikulasi dalam sejarah Barat, namun perubahan persepsi itu sendiri tetap saja tidak merubah Barat dari ketololan monoteisme dan dominasi filosofisnya.

Sekarang coba dengarkan mp3-nya gending Jawa/Bali atau download dan dengarkan juga gending lainnya di sini. Dengarkan baik-baik secara intelek dan aktif. Coba gunakan perspektif Barat yang cenderung mono-tematik itu untuk mencari-cari tema yang mengikat semua bunyi itu sebagai satu unit karya musik.

Nah, sekarang buat perbandingan. Maka secara umum yang kelihatan adalah:
  1. Melodi di gamelan itu cenderung conjunt dan ini logis saja, karena kalau Anda lihat fisik instrumennya maka mereka itu rata-rata tidak pernah lebih dari satu oktaf. Melodi di Barat sendiri bisa conjuct atau disjunct.
  2. Efek langsung dari fisik instrumen yang hanya satu-oktafan itu buat telinga dan otak kita yach otomatis jadi hipnotis serta menenangkan. Persis waktu Anda jadi mengantuk mendengar orang yang ngomongnya datar-datar saja cuman berkisar di dua-tiga melodi suara, otomatis mata Anda pun jadi sayu-sayu. Bandingkan sama mendengar orang yang ngomongnya meloncat-loncat kayak histeris, alias melodi suaranya itu disjunct, otak Anda pun nggak bakalan bisa tenang karena tegang terus.
  3. Karena fisik instrumennya hanya satu-oktafan, maka otomatis kendala harmoni ala musik Barat pun langsung hilang. Dalam musik Barat, do-re-mi-fa-sol itu bisa diekspresikan dalam berbagai tangga nada seperti CDEFG atau DEF#GA atau ABC#DE atau EF#G#AB; sedangkan solmisasi gamelan sendiri yach praktis tidak berubah. Ini bukannya jelek, tapi membuka ruang untuk komposisi tanpa kendala harmoni.
  4. Karena instrumennya hanya satu-oktafan, maka mau ratusan orang main secara bersama sekalipun yach tidak akan mengeluarkan nada yang sumbang. Istilah musiknya ialah dissonant tidak perlu di-resolved karena dissonant itu tidak terjadi di tangga-nada yang berbeda-beda; melainkan yach hanya di satu-oktafan tadi.
  5. Karena hanya satu-oktafan, maka otomatis musiknya pun menjadi siklis dan tidak linier dengan intensionalitas yang tertentu. Paling gampang buat mengerti maksudnya ini ialah: buka piano dan mainkan semua tuts-tuts yang hitam di sana sesuka Anda. Hasilnya, mau main seperti apapun yach nggak bakalan itu jadi sumbang. Sekaligus, susunan melodinya pun jadi siklis karena mau diputar bagaimana pun juga hanya ada 5 tuts yang hitam dalam setiap oktaf yang sudah otomatis harmonis satu sama lain.
  6. Keberadaan batasan tangga nada yang cuman satu-oktaf ini kemudian dikompensasi oleh gamelan dengan ritme yang super kaya. Nah, gamelan memang cenderung mutar-muter saja melodinya; tapi apakah pemainnya sendiri juga melihatnya sebagai mutar-muter kayak anjing mengejar buntut ataukah si pemain itu bisa melihatnya secara linier kapan itu harus mulai dan kapan harus berakhir? Tidak, si pemain sendiri bisa melihat ke-linier-an musiknya sebagaimana kita bisa merasakan ke-linier-an simfoninya Beethoven! Buktinya adalah si gong. Gongnya gamelan itu cuman sekali-kali saja dibunyikan di satu event musikal yang tertentu dalam lagu itu. So, otomatis si pemain gong itu sendiri harus bisa tahu di event musikal yang mana dia harus nge-gong. Iya khan!? Kalau tidak khan jadinya gong-gong-gong terus tanpa makna. Jadi, kalau musiknya memang mutar-muter tanpa arah tanpa intensionalitas yang tertentu tanpa ada satu kesatuan unit siklus yang utuh di dalamnya, yach tidak mungkin si pengegong bisa membedakan event-event musikal di sana untuk terus nge-gong. Logis khan? Sama persis seperti pemain drum atau perkusi biasa. Berarti, meski unit-unit siklus ritmis itu ketutupan dengan suara gamelan yang conjuct itu, siklus ritmis itu harus tetap eksis.
Praktis point-point inilah yang dilihat serta didengar oleh Debussy juga! Situs ini secara tepat bilang: "The music of Claude Debussy had a monumental impact on Western music, in that it revolutionized how musicians approached harmony, tonality and rhythm". So, dari mana inspirasi revolusioner dalam memanajemeni harmoni, tonalitas dan ritme itu? Yach dari gamelan itu!

Coba Anda dengarkan midinya L'isle Joyeux karyanya Debussy ini. Anda bisa merasakan tidak pengaruh gamelan di sana terekspresikan melalui penggunaan ritmenya via melodi yang ditremolo model gamelan nge-tuk-tuk-tuk bonang? 'L'isle joyeuse' sendiri artinya adalah 'pulau yang bahagia'; seperti steno ke Jawa!

Lantas dengarkan juga Suite Bergamasque ini. Tanyakan pertanyaan ini: lagu ini secara harmoni sebetulnya sedih (minor) atau gembira (mayor)? Bandingkan dengan Simfoninya Beethoven di atas yang status mayor/minornya itu jelas sekali. Nah, terus dengarkan lagi gamelan dan tanya sendiri lagi, ini mayor/minor? Jawabannya: tidak mayor dan juga tidak minor! Persis seperti gamelan pun tidak mengenal tangga nada mayor/minor. Dengarkan lagi Arasbesquenya yang terkenal ini dan tanya sendiri lagi, ini mayor/minor?

Anda juga bisa meneruskannya sendiri dari situs ini atau yang lebih komplit lagi klik-klik sendiri halaman khususnya Debussy di Classical-Archieve. Baca juga biografinya Debussy di sana!

---o0o---

Jujur saja, eskposisi musik di sini yach jelas jauh dari komplit. Anda harus ingat bahwa gara-gara keterbatasan yang ada, saya pun harus banyak menggeneralisasi, menyederhanakan dan mempersingkat isinya. Sudah jelas itu banyak makan korban juga! Tapi paling tidak, saya berharap agar tujuan saya pun bisa tetap tercapai. Yaitu untuk mengekspose Anda dalam memahami pengaruh musik gamelan terhadap perkembangan musik di dunia.

Di dunia kontemporer sendiri coba dengarkan musik model house music yang isinya cuman ritme-ritme siklis tanpa ada satupun tema melodik khusus yang menonjol di musiknya sendiri. Sadar tidak bahwa awalnya sekali itu yach datang dari Debussy juga setelah dia mendengar dan terpengaruh gamelan tadi. Dengarkan juga Rite of Spring-nya Stravinsky yang juga dipengaruhi Debussy. Termasuk gerakan minimalisme model musik hiper-modernnya si Glass. Tanpa menyebutkan bagaimana Debussy pun mempengaruhi Schoenberg bapaknya atonalisme dalam mempersepsikan tangga-nada & harmoni.

Sekaligus, sampingannya, kalau Anda di luar negeri yach jadi punya bahan untuk ngecap sedikit tentang seni budaya Indonesia sendiri ke orang-orang yang sedang Anda kencani...:)


JD

-----
Catatan:
-Musik konser, atau concert music, adalah istilah yang paling tepat bagi semua jenis musik yang secara salah sering disteno sebagai 'musik klasik'. Definisi terbaik buat concert music adalah operasi intelektual secara artistik di atas nada-nada diatonis. Artikulasi utamanya adalah intelektualitasnya, baru nomer duanya adalah ekspresi artistiknya alias lagu atau melodi yang mendayu-dayu kayak permen buat kuping itu.

26.4.05

The Omni Power Poverty

What is the main denominator behind most major twists in human history? One thing is for sure, that is poverty.

Let’s take a look at the revolutionary stories in the Semitic holy books and we will meet their very first common hero, which is Moses. It remains unclear whether Moses was a Jew, or an Ancient-Egyptian, or an Ancient-Egyptian king who pretended to be a Jew. But we can rest assured that Moses had successfully capitalized the suppression, discrimination, slavery, and thus the very poverty of those Jewish people in Ancient-Egypt. Moses led this poor segment of the Ancient-Egyptian society out of the Pharaoh’s land for a Promised Land where all notions of poverty are imagined to be absent. And the very first reason for this class of people to follow Moses was neither because of his charisma, nor his super strong Yahweh, but it was only because they all were under the circumstances of economic poverty.

The second revolutionary story was about the rebellion of the poor Jesus. This story is set during the Roman occupation in Judea. Just like every populist, Jesus presented himself to be a poor man deadly menaced by the extreme case of poverty; as much as we Indonesian remember Suharto portraying himself to be of a very humble origin, a.k.a. poor. Jesus also preached to the certain class of his society that is the ebonite. And like Moses, Jesus also promised a Promised Land high up there that has no notion of poverty at all. In this utopian land as promised by Jesus, the only thing that exists is the betrayal of any mundane circumstance. So twisted that Jesus world is that the poorest becomes the richest, the sickest becomes the healthiest, and the lowest becomes the highest. I believe one doesn’t need a Psychology 101 to understand the play of extreme self-denial in this hallucination.

The third major revolution in the Semitic family of faith is in Islam and managed by Muhammad. And again the same story of Muhammad’s humble origin arises. It is said that Muhammad was born a poor orphan who later on owed his fortune from his first beloved wife Khadijah. However, the Koran strongly implies that Muhammad maintained his poor life style in his life time, so he was not indulged in his wife’s wealth. He was still faithful in his poverty. The Islamic sources also narrate that his first followers apart from his own family were the poor of Mecca. These poor would then follow him to Yathrib in his historical hijrah. Some Islamic sources also mentioned that those poor fellows did not do anything else in Yathrib, except gathering themselves in the mosque. This phenomenon is so strikingly similar to modern Saudi Arabia, where everything is practically run by foreigners while the natives themselves just cherished the Koran and the promise of Islam.

And the Eastern belief systems are also very much poverty driven too. The major difference with the Semitic faiths is that in the East, the main ‘prophets’ did not need to pretend to be poor. So that, although the story of Siddhartha was obviously motivated by his observation on the poverty behind the wall of his palace, Siddhartha did venture into denying his own noble origin like Moses for instance. Yet, instead of making people believe and explicitly telling the story that he was of humble origin like Moses Jesus and Mohammad, Siddhartha acted upon the life style. As such that Siddhartha made and commanded every wanna-be Buddha to live the life style of a beggar, of the poor. The origin of Chinese philosophy is also very much alike. The life setting of Confucius and Laozi was equally the same, that was during the wartime of a divided China following the breakdown of Zhou dynasty into hundreds of kingdoms.

Isn’t it fascinating that almost all religion and belief systems are somehow motivated by the omni power of poverty? More over, the promises of modern politics are still not deviant from this path that basically promised the eradication and elimination of poverty. All founding fathers of every country fought against this. The French Revolution was somehow caused by a collective disgust of the poor against the aristocracy and bourgeoisie. The American Revolution was motivated by Washington’s unwillingness to pay taxes to British aristocracy and promised the making of a utopian Jeffersonian land where the pursuit of personal happiness would be equally given to its citizen; although Jefferson himself sarcastically wrote his hallucinating utopia after an orgasmic trip over the body of his female slaves. The third world countries are also the same, all of them sealed their independence with a dream of a land where poverty is abolished for their people.

Modern isms are also identical. Communism, capitalism, fascism, socialism, Islamism, Pancasilaism; all these isms in their own way highlight and claim similar promise, that is the eradication of poverty, the sense of equality for all men within the boundary of that particular ism, and the wealth for men.

However, upon quickly observing the similar play and theme in the ancient time to the contemporary time above, we can safely conclude two main premises, those are (1) poverty will always be with us as long as we are still biologically like this, and (2) the struggle against poverty will continue to no end in the history of mankind.

And my very first reason to bring this up to you is because even now we are seeing the struggle against poverty has globally reached a new height.

First, look at America. Traditionally, America is a racially divided country ruled by prejudicism like the white thinks s/he is of the highest race above everybody like in the movie Bonanza, then the black looked down at the white’s cultural depravity, and so on. But today, America has astonishingly found themselves not to be like that any longer. The traditional racial segregation is gone, replaced by the economic segregation. So that, if in the old America the white would feel very uncomfortable being with the black and prefer to be with the white for instance; today a poor white will feel more comfortable being with a poor black rather than with a rich white. And rich white people too will socialize themselves more comfortably with equally rich black individuals rather than racially poor white people. Of course, the word rich and poor here have a lot of aliases, such as un/successful, un/educated, un/exposed, and so on. Let me give you an interesting case when a successful black individual badmouthed the unsuccessful black people and his condemnation on the poor black was cheered up nationwide. That was when Bill Cosby prided himself with his good command of English that actually simply signifies high education and thus economically rich. Bill Cosby badmouthed the poor black people who spoke bad English such as "s/he don’t love me" or even the poor people inclination to use foul words like nigger, fuck, and so on. You need to understand America a little bit to understand the absurdity of Cosby’s accusation and eventually the new rise of economy as the great divide in America.

The problem here is because Bill Cosby has singled out the poor black parents only. And, this is simply not true. Yes, it is true that family matters, so if parents use foul languages everyday eventually the child will start to speak like that too. Yet, peer group also counts. And once we look at it this way, the economic reason will soon crack up. Look, the kind of kids who speak like that actually are not just poor black kids, but basically all poor kids in America, because those kids typically go to public school. Poor Chinese kids, as well as poor Latino kids, they all dress up like the poor black kids, speak equally the same grammatically stupid English, and even equally call their peer using the word nigger. For instance, racially I have a Chinese body and one day I was surprised when there was a black adolescent called me nigger! I astonishingly asked her, “Me, a Chinese? How come!?” And she simply said, “’Cause ye are a nigge!” Semantically even the word nigger is not exclusively for black people only, but for every body who acts and has the attribute of those poor people, no matter what his/her skin color is. Moreover, how about white rap artists like Eminem? The lyrics of his songs are so typical of the poor rebellious black kids, but Eminem himself is white and somehow successful. So, the problem addressed by Bill Cosby actually was not the problem of poor black kids only, but of all poor kids in America. It was not only the problem of poor black parents only, but practically of every poor parent in America. The best way is to overcome this problem is actually simple, just send your kids to the good school so they can be around other good kids and it is guaranteed your kids will immediately change their behavior. However, do you have the money and financial backbone to send your kids there? And yes, in those good school your kids will still be exposed to different colors. In those good school, your kids are actually only shielded from the poor class, not from the yellow or black or brown or white!

Second, if what is happening in America means capitalism fails to bring about the promise of eradicating poverty; then, what happens in the ex-Soviet’s satellite countries are the same too. Right after the fall of communism, those ex-Soviet’s satellite countries are again getting economically divided. You are not what you are, but you are what your economy is. In China a big majority of Chinese people already starts to whisper the return of the Maoist day when everybody was equally poor; not like China now, where the poor remains poor or poorer, while some people get richer and richer. Life back then was hard for those Chinese, but at least they did not feel poor because after all, everybody was poor. And thanks to neo-liberalism, poverty is also globally making a big return. The poor countries are getting much more dependent on the richer ones as they themselves get poorer. Just look at our Indonesia, the poverty rate now is already crazily 40%! Right after we prided ourselves with reformasi.

Are democracy and reformation actually in-themselves bad and corrupt?

Thanks to today social and intellectual cliché, no modern healthy mind would ever say ‘yes’ to that question. Nobody wants to look primitive and backward! However, what those modern men do actually betray what they are afraid to say. And in reality, totalitarianism are really returning everywhere in its many forms and faces!

In Europe totalitarianism is coming back under the disguise of neo Nazism and extreme nationality. In England, the Asian-British people (usually Indian) are under physical attack. In France, the anti-Chiraq chose to vote for Chiraq only because it would block the fascist Le Pen from winning the election. In Ireland, the overseas Chinese is assaulted and asked to leave the land of the Irish people. In Germany, people like the ex-Vietnamese refugees start to go back to Vietnam because they cannot bear the racial discrimination any longer. In Russia, a neo-fascist movement starts to promote the superiority of the Russian people over the other minority from the ex-Soviet satellites in Russia. The ultimate dream of this fascist and racist Europeans is a Father land where everybody is white and equally rich at the expense of the non-white and non-local. All those fascist are somehow experiencing a black-out from the history of Hitler and Nazism.

In many predominantly Muslim countries, totalitarianism disguises itself under the mask of Shariah law. In Indonesia for instance, this Islamist promoters constantly spread out the dream of the old days when everybody was equal under an Islamic caliph. In Kelantan Malaysia, as well as in Aceh, single-handedly the people in the area had chosen to erect the Shariah law. All those Islamist deliberately blind their own eyes on the failure of such Islamic state everywhere in the history, even during the time of Muhammad himself that Islamic state was ended by a big war and massacre among Muhammad’s own family members.

In Latin America countries, now there is a movement called Fidelist from Fidel Castro. This is spearheaded by Hugo Chavez who deliberately badmouth the rich people, and tell them to give away their wealth to the poor just like what Jesus said 2000 years ago. This leftist fidelist is already building its bases among the elites! No wonder all Latin American countries start to revive its version of socialism, liberation theology and to copycat the success of Cuba.

Why all this happens? Because of poverty! Poverty proves to be an omni power element behind every social change. Regarding religions for instance, many theorists talk about fear as the very origin of religion, or the psychoanalytical murder of a primal father. But, how can fear come to us? Well, only if we are poor! If we are poor, we have every reason to fear the world and the future; we will soon start to hallucinate about an other world where the poverty is gone; we have every reason that the rich will step on our misfortune. Fear has an origin, and poverty is the only candidate for its origin.

Indonesia is now tightly gripped and squeezed by poverty, by the very first mover of every twist in the history mankind. How exactly we shall address this problem? Shall we ride on it for our populist goal; or shall we start a collective movement? Shall we manipulate it for furthering up the nation building and thus the Indonesian identity; or shall we just wait until this poverty start to naturally twist the history of the country?

If you start to think about it, I have reached my goal!

25 April 2005
JD

7.4.05

Paus Postmois

Membaca data atas para pelayatnya Paus ini sangat menarik. Empat juta pelayat internasional, plus 150 utusan resmi dari 150 negara, plus praktis berbagai utusan dari musuh-musuh tradisionalnya Katolik (Islam, Anglikan, Yahudi), termasuk beberapa sesamanya spiritualis (Dalai Lama). Paus yang ini katanya terkenal dengan pandangan dunianya yang menekankan tiga hal sekaligus, yaitu pluralitas, koeksistensi serta perdamaian. Ajaibnya, artikulasi nilai-nilainya tersebut tanpa diketahuinya sekarang malah menjadi tema utama dari upacara penguburannya.

Bush mengatakan Iran itu 'axis of evil', sementara si Iran mengatakan Amerika itu 'the great satan'. Tapi dalam upacara penguburan ini, si 'axis of evil' Khatami bakal duduk jejer dengan si 'great satan' buat mengikuti upacaranya si Paus yang waktu hidupnya menekankan koeksistensi, perdamaian dan pluralisme. Ini persis seperti melihat dua anak yang selalu saja berkelahi di sekolahan didudukan di depannya si kepala sekolah, siap mendengar wejangan serta jeweran untuk tidak berkelahi lagi.

Tapi tentu saja perseteruan Bush dengan Khatami itu jauh lebih kompleks dari pada anak sekolah yang berkelahi hanya gara-gara dorongan testoteron. Bush dan Khatami pun nggak mungkin bisa dipaksa hadir begitu saja dengan otoritas mutlak seperti kekuasaannya si kepala sekolah. Jangan lupa juga, Khatami itu Islam Syiah yang secara tradisional menabukan orang muslim masuk ke gereja atau pun non-muslim masuk ke mesjid; sementara Bush sendiri pun adalah Kristen Metodis yang secara tradisional pun melihat hirarki serta sejarah gereja Katolik itu sebagai intervensi setan yang menyesatkan domba-dombanya si Yesus.

Jadinya, kalau pun mereka yang bermusuhan seperti Bush dan Khatami itu bisa dibuat duduk jejer bersama tanpa paksaan, maka satu-satunya hal yang bisa dikatakan adalah: tentu mereka berdua sebetulnya sepakat dengan tatanan nilai yang digariskan oleh si penengah atau si Paus yang dihadapinya itu.

Pertanyaannya sekarang, tatanan nilai yang mana dari si Paus itu yang sebetulnya disepakati oleh Bush dan Khatami? Atau dalam kalimat lain, apa persamaan nilai di antara Bush dan Khatami yang secara kebetulan dipersonifikasi di dalam dirinya si Paus, sehingga keduanya bisa secara bersamaan mendekat ke si Paus?

-=-=-=-

Paus Yohanes Paulus ke-II ini hidup di jaman serta lingkungan intelektual filsafat postmo (post-modernisme). Postmo sendiri bisa disimplifikasi sebagai tatanan nilai yang secara radikal serta mendasar sekali terilhami dan terartikulasi oleh atribut-atribut atas 'yin' atau ke-perempuan-an.

Jika pria berkelahi, maka tangan berbicara. Di jaman postmo sendiri model dinamika testoteron begini tentu saja secara instingtif akan diludahi kanan kiri, karena saat ini yang modis adalah berkelahi seperti perempuan. Berkelahi dengan mulutnya yang ceriwis gemar menggosip kanan kiri itu. Waktu pria berkelahi, maka yang menang bakal membanggakan diri di atas mampusnya si musuh. Waktu perempuan berkelahi dan menang, maka dia tidak membunuh namun hanya mengakomodasi musuhnya.

Karena itulah maskulinitas perang Irak itu sama sekali tidak laku. Dunia yang postmois ini malah ingin mengakomodasi si Saddam (dan Irak), bukannya malah menghancur-leburkannya. Konflik frontal dengan Korea Utara pun sama sekali tidak laku di kalangan mudanya orang-orang Korsel, karena si muda-mudi Korsel yang otomatis lebih postmois ini malah secara instingtif ingin mengakomodasi si Korut; bukannya menghancurkannya. Karena itulah si muda-mudi Korsel pun konflik besar dengan golongan konservatifnya yang masih dikuasai oleh logika modernisme.

Tendensi perempuan adalah mengayomi serta nggak peduli anaknya itu baik atau jelek, pokoknya yach tetap saja dicintainya. Karena itulah gaya kepemimpinan yang gemar demagogi, otoriter kayak si Bapak yang 'yang', atau pun yang cuman pinter pidato toq secara logis sama sekali tidak laku di pentas dunia.

Ini semua adalah gaya-gaya postmois yang memang sangat terartikulasi oleh seksualitas seorang wanita.

-=-=-=-

Jika kita bisa membedah anatomi tatanan nilai yang dibawa serta ditekankan oleh Paus Yohanes Paulus ke-II, maka dengan segera kita bisa melihat napas postmo di sana.

Media bilang bahwa kalau Paus ini tidak menjadi pastor, maka tentu dia sudah menjadi filsuf atau paling tidak menulis buku filsafat. Dengan demikian, tentu saja Paus ini pun sudah mengenal asal usul intelektualitas filsafat post-modernisme itu bagaimana. Postmo pun sebetulnya hanya merupakan reaksi terhadap modernisme dingin yang menguasai pemikiran dunia di paruh pertama abad ke-19, dan dari biografinya kita membaca resistensi Paus ini melawan maskulinitas modernismenya Hitler atau pun Stalin. Gerakan postmo sendiri pertama kali sendiri terekspresikan melalui arsitektur dan media-media seni, termasuk teater. Dan dari biografinya pun kita tahu kalau Paus ini sempat menjadi aktor teater. Jadi, sudah pasti dia tahu tentang teater-teater postmo seperti, misalnya, 'Waiting for Godot'.

Singkatnya, secara aman kita bisa melihat intimitas intelektualitas si Paus ini dengan gerakan, perdebatan serta artikulasi filsafat post-modernisme itu sendiri.

Untungnya dia pun kemudian menjadi Paus serta mendapat media, posisi serta otoritas untuk mengekspresikan serta membebaskan doktrin-doktrin postmois ke dalam aksi karya nyata. Nah, di sini kita bisa melihat perilaku postmoisnya.

Sebagaimana perempuan, Paus yang ini pun tidak pernah membedakan orang ini muslim atau Katolik atau Hindu. Semua orang hanya dilihatnya sebagai umat, sebagai anak. Bersenjatakan apologetika filosofis seperti ini, dengan mudah dia bisa duduk bersama si muslim, si Protestan, si Yahudi, si ortodoks dan praktis dengan siapa saja. 'Yang lain' (the other, l'autre) dalam doktrin postmo memang cenderung dilihat sebagai elemen dari mozaik besar yang setara, senasib, seidentik dengan si 'aku' di dalam bingkai realitas mozaik itu.

Coba Anda kaplok ibu Anda, maka dijamin Anda akan tetap dimaafkan serta dicintainya. Ini memang salah satu ciri kekuatan perempuan yang tidak dimiliki pria, yaitu bisa memaafkan serta terus mencintai. Tapi coba kaplok bapak Anda, maka jangan harap dia bakal mengakui Anda sebagai anaknya lagi! Nah, perilaku Paus ini pun sama seperti si ibu tadi. Dia memaafkan penembaknya, mengunjunginya di penjara dan bahkan memberi audiensi ke ibu serta kakaknya si penembaknya itu. Bahkan sekarang pun katanya si penembak itu ikut berduka-cita berat atas kematian Paus ini! Di sisi lain, dunia postmois yang melihat ke-feminin-an sikapnya itu tentu saja makin mencintainya pula. Sekali lagi, perilaku ini pun sangat postmois. Dari dialog frontalnya dengan si modernis yang dipenuhi dengan zombie-zombie indoktrinatis model si Winston & Julia di 1984-nya Orwell, postmo pun cenderung melihat manusia seperti wayang sebagai 'ideologi berkaki' (a walking ideology), atau secara Hegelian sebagai 'a walking idea'. Jadi, buat postmois tidak ada gunanya membunuh demi ideologi, karena kita tidak mungkin membunuh ideologi atau pun idea yang abstrak. Nah, bukankah perilaku Paus yang memaafkan si penembaknya itu sangat konsisten dengan ide dasar atas manusia dalam kerangka postmois ini!?

-=-=-=-

Bagaimanakah kita menilai kesejarahan Paus Yohanes Paulus ke-II ini?

Pertama sekali, buat saya pribadi, aksi serta personalitas Paus ini hanyalah merupakan produk jamannya. Bisa jadi dia membayangkan dirinya sebagai dutanya si Yesus dengan misi khusus di bumi. Namun secara nyata pun profilnya hanya terbentuk secara sekuler tanpa campur tangan ilahi sedikit pun melalui perdebatan filsafat di jamannya. Dilihat begini, maka Paus ini pun tidak berbeda dengan paus-paus lainnya. Seperti waktu di jamannya modernisme menggila, maka Paus serta gereja Katolik pun tidur bersama Hitler. Di jamannya represi monarki-monarki Eropa, maka paus-paus di jaman itu pun secara konsisten merajakan dirinya sendiri. Di jamannya Eropa secara kuat sekali membenci si Yahudi sementara gerakan zionisme sendiri sama sekali tidak punya kekuatan apa-apa, maka para paus pun secara sekuler lagi-lagi memboncengi diskriminasi atas si Yahudi.

Kedua, Paus ini menjadi terkenal serta dicintai kanan kiri karena entah kebetulan atau tidak dia secara konsisten mengepak dirinya dengan semua pandangan dunia yang memang lagi modis. Dengan demikian, studi atas personalitas Paus ini bisa menjadi bahan inspirasi yang sangat berguna bagi para politikus, pemasar produk, serta semua orang yang memang perlu menjual produk secara massal. Asosiasikan produk Anda dengan postmo, maka kemungkinan besar Anda bisa sukses serta mengeruk keuntungan besar dari sana.

Ketiga, kematian Paus ini membuktikan bahwa filsafat postmo memang betul-betul telah dan sedang menguasai dunia! Pelajarilah postmo untuk keuntungan Anda pribadi di dalam bermasyarakat, maka kemungkinan besar Anda pun bakal diterima kanan kiri.

Bisa jadi itulah sumbangsih Paus ini yang terpenting buat kita yang masih hidup! Secara simbolik kematiannya menggariskan apa yang sedang marak menguasai hati serta pikiran orang-orang sedunia.

Pelajari dan gunakanlah itu!


JD

15.10.04

Islam & PostMo

Apakah Islam itu salah satu musuh PostMo?
Atau, apakah Islam itu cuman salah satu dari reaksi PostModernis dalam rangka menjawab kegagalan modernisme?
Yang mana?
Lantas, perang melawan terorisme ini sebetulnya adalah perang di antara dua sama (the same);
atau cuman perangnya si Islam sebagai *agen PostMo* melawan si Amerika sebagai si sama (the same)?
Yang mana yang betul?

----------------

PostMo adalah 'reaksi' atau antitesis terhadap modernisme.

Jadi, kalau modernisme itu menekankan obyektivisme, maka PostMo menekankan subyektivisme. Kaum modernis itu, seperti para eksistensialis, percaya bahwa "aku memilih, maka aku ada". Sartre si eksistensialis misalnya, sangat gemar menekankan "aku memilih" sebagai perwujudan kehendak bebas (free will); tapi lebih jauh lagi, para eksistensialis itu pun lantas juga gemar mengatakan bahwa akan cuman ada satu saja pilihan [obyektif] yang benar. Marleau Ponti lantas tanya sama Sartre pertanyaan model begini: andaikan ada petani di desa terpencil di Indonesia yang harus memilih antara membunuh istrinya yang sekarat (eutanasia), atau membiarkannya hidup sekarat..., nah, apapun pilihan si petani itu, apa bisa OBYEKTIVITASNYA dibandingkan kalau misalnya dia ada di Paris? Alias, si Ponti itu menekankan faktor subyektif & uniknya setiap peristiwa (event), sekaligus menertawakan pikirannya si Sartre yang secara tidak manusiawi itu menekankan obyektivitas.

Modernisme dalam arti pro-obyektivitas itu muncul di Indonesia via Suharto. Perhatikan omongan dan tindakannya si dakocan Suharto dulu: "kita membangun supaya tidak ketinggalan bangsa lain", dan kemudian dia mbangun cem-macem dengan duit utang. Isi pikiran itu dilandasi keyakinan bahwa "modern" atau "tidak ketinggalan" itu punya obyektivitas tertentu yang cuman bisa diraih sama pembangunan-pembangunan fisikal itu.

Ini muncul juga karena "musuh"-nya modernisme itu adalah 'ketidak-samaan'. McDonald & CocaCola itu adalah produk jaman modern, maka dia pun muncul sama, standard, satu rasa satu resep satu toko dimana-mana. Persis juga dengan IMF yang berkeyakinan (secara aposteriori) bahwa kalau di sini policy-nya jalan, maka di mana-mana yach juga harus jalan. 'Ketidak-samaan' (sikon, keunikan karakteristik suatu peristiwa) selalu diremehkan sama si modernis. Ketidak-samaan buat si modernis dianggap sebagai 'penyakit', karena itulah bangsa Indonesia pun yach harus 'sama' dan menjadi kayak, katakan saja, Amerika. Juga bangsa-bangsa Arab, Cina, Jepang..., semuanya itu hanya bisa dikatakan 'sehat' kalau mereka bisa hidup setaraf dengan standarnya si bule. Standard itu apa saja bentuknya? Yach pokoknya segala sesuatu yang mem-bule: politiknya harus demokratis liberal, perempuannya harus begini-begitu, ekonominya harus terbuka, dst. Ini semua dilakukan tanpa pandang bulu karena di matanya si modernis itu, semua harus dan berpotensi untuk menjadi 'sama'; kalau tidak begitu, yach sakit!

Buat PostMo yang memusuhi si sama (the same) itu, subyektivitas lebih penting. Orang Batak nggak doyan makan hamburger tiap hari, yach nggak apa-apa, silakan saja, dan nggak perlu jadi minder. Orang Cina nggak bisa demokratis, yach monggo saja karena Cina khan memang negara komunis; termasuk Kuba, Korut..., ngapain musti maksa-maksa semua orang jadi seperti kita? Atau bahkan, kayak Amerika, niatan mau menegakan demokrasi di Indonesia atau Chile biar bisa SAMA kayak di Amerika, tapi jadinya malah menempatkan diktaktor militer yang menyengsarakan orang Indonesia & Chile? Kenapa harus sama? Chile/Indonesia mau jadi sosialis, yach biarin saja!

Dengan demikian, musuhnya PostMo itu yach adalah si sama itu. Si sama itu adalah si fasis persis seperti Hitler; sekaligus juga seperti si Amerika yang doyan men-demokrasi-kan negara-negara lain agar sama dengan dia; atau juga format pikiran politik yang negara-sentris ala Indonesia atau Cina, sehingga banyak rakyat mampus percuma demi supremasi negara. Singkatnya, si sama itu betul-betul punya banyak wajah! Yang penting adalah pertanyaan ini: apakah dia mekso saya harus kayak dia? Kalau afirmatif (Ya!), maka jelas si dia itu yach adalah si sama itu. Dan si sama itu bakal langsung dimusuhi sama si PostMo.

PostMo dengan demikian sangat mensupremasikan ketidak-samaan. Perhatikan semua ekspresi artistik PostMo, maka Anda akan melihat rancang-bangun yang 'tidak sama' dan tidak seragam unsur-unsurnya. Kalau ekspresi artistik Anda masih terkuasai sama modernisme, maka ekspresi PostMo itu bakal kelihatan ngawur, kampungan, nggak simetris, anak TK pun yach bisa, dst.

Kalau modernisme itu adalah si 'yang' yang maskulin, maka PostMo adalah 'yin' yang feminin. Si maskulin biasanya menyukai rancang bangun yang kokoh, keras, kereng, keji dan berwibawa; karena itulah semua arsitektur modern pun modelnya begitu. Sedangkan si feminin menyukai rancang bangun yang elastis, lebih ke kurva dari pada garis lurus-lurus, membuat orang betah, mengundang orang datang, jinak, bersahabat dan supel; karena itulah arsitektur PostMo pun modelnya begitu.

----------------

PostMo saat ini sudah mulai merasuki kehidupan kita di dunia di semua segi. Tapi modernisme pun masih belum betul-betul sudi meninggalkan arena. Jadi, kita pun butuh perang dunia ketiga lagi.

Geopolitik di jaman PostMo ini misalnya, di Eropa bule-bule Eropa lagi rajin mau membuang tinja-tinja Kristen dan kembali ke Eropa ideal yang orientasinya ke Yunani kuno. Sedangkan di Cina dan India, mereka pun mulai ancang-ancang buat menegakan lagi supremasi kunonya. Di Indonesia sendiri kita sudah membantai si Modern Suharto itu, dan tertatih-tatih mau menjalankan ke-bhineka-an yang kena represi selama jamannya si Modern Suharto. Di Arab sendiri mereka rajin sembayang agar kejayaan Islam bisa tegak lagi.

Anda HARUS tahu bahwa geopolitik ini adalah fenomena yang betul-betul baru dan bertolak belakang dari geopolitik beberapa tahun yang masih modernis! Di jaman waktu ideologinya si modernis itu masih berkuasa, maka semua orang kepinginnya yach cuman jadi kayak Amerika. Pilihan musiknya cuman the Beatles, atau Madonna; dan jangan harap penyanyi etnik bisa muncul. Jangan harap Jackie Chen atau Jet Lee bisa main di Holywood. Pilihan politik pun yach cuman jadi komunis atau jadi kapitalis.

So, suka tidak suka, musuh utama di dunia postmo saat itu yach adalah si Amerika. Amerika sekarang sudah jadi kayak Hitler, sudah jadi si sama yang selalu mau main ancam kalau orang lain tidak mau jadi seperti dirinya. Omongan-omongannya pun cuman main menang sendiri. Kayak waktu Amerika konflik sama Cina sebelum 911 itu, gayanya si Amerika itu kelihatan begitu ketinggalan-jaman. Jelas dia salah (pesawat mata-matanya mendarat di Cina tanpa ijin), tapi masih tetap mau menang sendiri. Hebatnya, nggak satu negara pun sudi mbantu Amerika selain Inggris! Semua negara dengan kesadaran PostMo-nya langsung menyalahkan si Amerika yang suka ngesok itu.

Nggak heran Amerika terus di sikat sama Islam!

Tapi meski sudah disikat lewat 911 itu, tetap saja negara-negara di dunia nggak terlalu suka sama perilaku maskulinnya si Amerika yang langsung menghajar Afghanistan. Infiltrasi PostMo yang feminin itu ke dalam kesadaran orang-orang sedunia kelihatannya memang sudah kuat.

----------------

Tapi Islam sendiri sekarang, apakah Islam itu bukan cuman si sama yang lain?

Islam itu selalu menuntut agar orang lain menjadi sama seperti dirinya, dan tradisi ini sudah mulai dari jamannya si Muhammad sendiri. Dia kirim surat-surat ancaman ke kanan kiri meng-ultimatum semua orang: "jadi sama seperti aku, atau negaramu 'tak serbu!" Islam pun sama sekali tidak 'feminin', dan bahkan di Quran sendiri si Muhammad sempat diperingatkan bahwa si Maha Kontol itu adalah Al-Lah si maskulin, bukannya si Al-Lat (aslinya si dewi bulan) yang 'feminin' itu.

'Tentram' buat muslim sendiri pada dasarnya hanya bisa terbayangkan kalau semua orang sama seperti dia, sama-sama muslim. Ini akarnya ada dua: [satu] karena Islam besar di dalam komunitas satu suku Arab saja, sehingga Islam pun menjadi adalah agama tribal; dan [dua] Islam sangat menekankan uniformitas atau kesamaan tadi.

Islam dengan demikian, adalah musuh dunia di jaman PostMo juga. Islam adalah si fasis yang maunya hanya agar semua orang menjadi sama seperti dia. Islam adalah salah satu perwujudan si sama itu sendiri.

Karena itulah, perang melawan terorisme ini buat saya adalah perang modern yang (mudah-mudahan) terakhir. Ini adalah perangnya di antara dua sama yang sama-sama berkeinginan menegaskan dirinya sendiri ke yang lainnya. Amerika maunya menciptakan negara Arab yang 'demokratis' sama persis seperti dirinya; sedangkan Bin Laden sendiri sudah kirim fatwa ke orang Amerika, bertobat dan masuklah ke Islam! Baik Islam maupun Amerika itu sama-sama fasisnya.

Nah, perangnya dua sama ini mudah-mudahan berakhir dengan hancurnya keduanya, dan naiknya supremasi ketidak-samaan ala PostMo itu.

PostMo sendiri sudah datang, dan nggak mungkin dicegah lagi. Semua subyek pun sudah atau akan segera mengalami femininisasi, pluralisasi dan subyektivisasi -- entah itu ekonomi, politik, geopolitik, gaya hidup, dst. Dan semuanya itu memang konsisten sama semangat PostMo sendiri!

Bye-bye modernisme!


JD