Paus Postmois
Membaca data atas para pelayatnya Paus ini sangat menarik. Empat juta pelayat internasional, plus 150 utusan resmi dari 150 negara, plus praktis berbagai utusan dari musuh-musuh tradisionalnya Katolik (Islam, Anglikan, Yahudi), termasuk beberapa sesamanya spiritualis (Dalai Lama). Paus yang ini katanya terkenal dengan pandangan dunianya yang menekankan tiga hal sekaligus, yaitu pluralitas, koeksistensi serta perdamaian. Ajaibnya, artikulasi nilai-nilainya tersebut tanpa diketahuinya sekarang malah menjadi tema utama dari upacara penguburannya.
Bush mengatakan Iran itu 'axis of evil', sementara si Iran mengatakan Amerika itu 'the great satan'. Tapi dalam upacara penguburan ini, si 'axis of evil' Khatami bakal duduk jejer dengan si 'great satan' buat mengikuti upacaranya si Paus yang waktu hidupnya menekankan koeksistensi, perdamaian dan pluralisme. Ini persis seperti melihat dua anak yang selalu saja berkelahi di sekolahan didudukan di depannya si kepala sekolah, siap mendengar wejangan serta jeweran untuk tidak berkelahi lagi.
Tapi tentu saja perseteruan Bush dengan Khatami itu jauh lebih kompleks dari pada anak sekolah yang berkelahi hanya gara-gara dorongan testoteron. Bush dan Khatami pun nggak mungkin bisa dipaksa hadir begitu saja dengan otoritas mutlak seperti kekuasaannya si kepala sekolah. Jangan lupa juga, Khatami itu Islam Syiah yang secara tradisional menabukan orang muslim masuk ke gereja atau pun non-muslim masuk ke mesjid; sementara Bush sendiri pun adalah Kristen Metodis yang secara tradisional pun melihat hirarki serta sejarah gereja Katolik itu sebagai intervensi setan yang menyesatkan domba-dombanya si Yesus.
Jadinya, kalau pun mereka yang bermusuhan seperti Bush dan Khatami itu bisa dibuat duduk jejer bersama tanpa paksaan, maka satu-satunya hal yang bisa dikatakan adalah: tentu mereka berdua sebetulnya sepakat dengan tatanan nilai yang digariskan oleh si penengah atau si Paus yang dihadapinya itu.
Pertanyaannya sekarang, tatanan nilai yang mana dari si Paus itu yang sebetulnya disepakati oleh Bush dan Khatami? Atau dalam kalimat lain, apa persamaan nilai di antara Bush dan Khatami yang secara kebetulan dipersonifikasi di dalam dirinya si Paus, sehingga keduanya bisa secara bersamaan mendekat ke si Paus?
-=-=-=-
Paus Yohanes Paulus ke-II ini hidup di jaman serta lingkungan intelektual filsafat postmo (post-modernisme). Postmo sendiri bisa disimplifikasi sebagai tatanan nilai yang secara radikal serta mendasar sekali terilhami dan terartikulasi oleh atribut-atribut atas 'yin' atau ke-perempuan-an.
Jika pria berkelahi, maka tangan berbicara. Di jaman postmo sendiri model dinamika testoteron begini tentu saja secara instingtif akan diludahi kanan kiri, karena saat ini yang modis adalah berkelahi seperti perempuan. Berkelahi dengan mulutnya yang ceriwis gemar menggosip kanan kiri itu. Waktu pria berkelahi, maka yang menang bakal membanggakan diri di atas mampusnya si musuh. Waktu perempuan berkelahi dan menang, maka dia tidak membunuh namun hanya mengakomodasi musuhnya.
Karena itulah maskulinitas perang Irak itu sama sekali tidak laku. Dunia yang postmois ini malah ingin mengakomodasi si Saddam (dan Irak), bukannya malah menghancur-leburkannya. Konflik frontal dengan Korea Utara pun sama sekali tidak laku di kalangan mudanya orang-orang Korsel, karena si muda-mudi Korsel yang otomatis lebih postmois ini malah secara instingtif ingin mengakomodasi si Korut; bukannya menghancurkannya. Karena itulah si muda-mudi Korsel pun konflik besar dengan golongan konservatifnya yang masih dikuasai oleh logika modernisme.
Tendensi perempuan adalah mengayomi serta nggak peduli anaknya itu baik atau jelek, pokoknya yach tetap saja dicintainya. Karena itulah gaya kepemimpinan yang gemar demagogi, otoriter kayak si Bapak yang 'yang', atau pun yang cuman pinter pidato toq secara logis sama sekali tidak laku di pentas dunia.
Ini semua adalah gaya-gaya postmois yang memang sangat terartikulasi oleh seksualitas seorang wanita.
-=-=-=-
Jika kita bisa membedah anatomi tatanan nilai yang dibawa serta ditekankan oleh Paus Yohanes Paulus ke-II, maka dengan segera kita bisa melihat napas postmo di sana.
Media bilang bahwa kalau Paus ini tidak menjadi pastor, maka tentu dia sudah menjadi filsuf atau paling tidak menulis buku filsafat. Dengan demikian, tentu saja Paus ini pun sudah mengenal asal usul intelektualitas filsafat post-modernisme itu bagaimana. Postmo pun sebetulnya hanya merupakan reaksi terhadap modernisme dingin yang menguasai pemikiran dunia di paruh pertama abad ke-19, dan dari biografinya kita membaca resistensi Paus ini melawan maskulinitas modernismenya Hitler atau pun Stalin. Gerakan postmo sendiri pertama kali sendiri terekspresikan melalui arsitektur dan media-media seni, termasuk teater. Dan dari biografinya pun kita tahu kalau Paus ini sempat menjadi aktor teater. Jadi, sudah pasti dia tahu tentang teater-teater postmo seperti, misalnya, 'Waiting for Godot'.
Singkatnya, secara aman kita bisa melihat intimitas intelektualitas si Paus ini dengan gerakan, perdebatan serta artikulasi filsafat post-modernisme itu sendiri.
Untungnya dia pun kemudian menjadi Paus serta mendapat media, posisi serta otoritas untuk mengekspresikan serta membebaskan doktrin-doktrin postmois ke dalam aksi karya nyata. Nah, di sini kita bisa melihat perilaku postmoisnya.
Sebagaimana perempuan, Paus yang ini pun tidak pernah membedakan orang ini muslim atau Katolik atau Hindu. Semua orang hanya dilihatnya sebagai umat, sebagai anak. Bersenjatakan apologetika filosofis seperti ini, dengan mudah dia bisa duduk bersama si muslim, si Protestan, si Yahudi, si ortodoks dan praktis dengan siapa saja. 'Yang lain' (the other, l'autre) dalam doktrin postmo memang cenderung dilihat sebagai elemen dari mozaik besar yang setara, senasib, seidentik dengan si 'aku' di dalam bingkai realitas mozaik itu.
Coba Anda kaplok ibu Anda, maka dijamin Anda akan tetap dimaafkan serta dicintainya. Ini memang salah satu ciri kekuatan perempuan yang tidak dimiliki pria, yaitu bisa memaafkan serta terus mencintai. Tapi coba kaplok bapak Anda, maka jangan harap dia bakal mengakui Anda sebagai anaknya lagi! Nah, perilaku Paus ini pun sama seperti si ibu tadi. Dia memaafkan penembaknya, mengunjunginya di penjara dan bahkan memberi audiensi ke ibu serta kakaknya si penembaknya itu. Bahkan sekarang pun katanya si penembak itu ikut berduka-cita berat atas kematian Paus ini! Di sisi lain, dunia postmois yang melihat ke-feminin-an sikapnya itu tentu saja makin mencintainya pula. Sekali lagi, perilaku ini pun sangat postmois. Dari dialog frontalnya dengan si modernis yang dipenuhi dengan zombie-zombie indoktrinatis model si Winston & Julia di 1984-nya Orwell, postmo pun cenderung melihat manusia seperti wayang sebagai 'ideologi berkaki' (a walking ideology), atau secara Hegelian sebagai 'a walking idea'. Jadi, buat postmois tidak ada gunanya membunuh demi ideologi, karena kita tidak mungkin membunuh ideologi atau pun idea yang abstrak. Nah, bukankah perilaku Paus yang memaafkan si penembaknya itu sangat konsisten dengan ide dasar atas manusia dalam kerangka postmois ini!?
-=-=-=-
Bagaimanakah kita menilai kesejarahan Paus Yohanes Paulus ke-II ini?
Pertama sekali, buat saya pribadi, aksi serta personalitas Paus ini hanyalah merupakan produk jamannya. Bisa jadi dia membayangkan dirinya sebagai dutanya si Yesus dengan misi khusus di bumi. Namun secara nyata pun profilnya hanya terbentuk secara sekuler tanpa campur tangan ilahi sedikit pun melalui perdebatan filsafat di jamannya. Dilihat begini, maka Paus ini pun tidak berbeda dengan paus-paus lainnya. Seperti waktu di jamannya modernisme menggila, maka Paus serta gereja Katolik pun tidur bersama Hitler. Di jamannya represi monarki-monarki Eropa, maka paus-paus di jaman itu pun secara konsisten merajakan dirinya sendiri. Di jamannya Eropa secara kuat sekali membenci si Yahudi sementara gerakan zionisme sendiri sama sekali tidak punya kekuatan apa-apa, maka para paus pun secara sekuler lagi-lagi memboncengi diskriminasi atas si Yahudi.
Kedua, Paus ini menjadi terkenal serta dicintai kanan kiri karena entah kebetulan atau tidak dia secara konsisten mengepak dirinya dengan semua pandangan dunia yang memang lagi modis. Dengan demikian, studi atas personalitas Paus ini bisa menjadi bahan inspirasi yang sangat berguna bagi para politikus, pemasar produk, serta semua orang yang memang perlu menjual produk secara massal. Asosiasikan produk Anda dengan postmo, maka kemungkinan besar Anda bisa sukses serta mengeruk keuntungan besar dari sana.
Ketiga, kematian Paus ini membuktikan bahwa filsafat postmo memang betul-betul telah dan sedang menguasai dunia! Pelajarilah postmo untuk keuntungan Anda pribadi di dalam bermasyarakat, maka kemungkinan besar Anda pun bakal diterima kanan kiri.
Bisa jadi itulah sumbangsih Paus ini yang terpenting buat kita yang masih hidup! Secara simbolik kematiannya menggariskan apa yang sedang marak menguasai hati serta pikiran orang-orang sedunia.
Pelajari dan gunakanlah itu!
JD

0 Comments:
Post a Comment
<< Home