filsuf

rangsangan buat pikiran anda

15.10.04

Islam & PostMo

Apakah Islam itu salah satu musuh PostMo?
Atau, apakah Islam itu cuman salah satu dari reaksi PostModernis dalam rangka menjawab kegagalan modernisme?
Yang mana?
Lantas, perang melawan terorisme ini sebetulnya adalah perang di antara dua sama (the same);
atau cuman perangnya si Islam sebagai *agen PostMo* melawan si Amerika sebagai si sama (the same)?
Yang mana yang betul?

----------------

PostMo adalah 'reaksi' atau antitesis terhadap modernisme.

Jadi, kalau modernisme itu menekankan obyektivisme, maka PostMo menekankan subyektivisme. Kaum modernis itu, seperti para eksistensialis, percaya bahwa "aku memilih, maka aku ada". Sartre si eksistensialis misalnya, sangat gemar menekankan "aku memilih" sebagai perwujudan kehendak bebas (free will); tapi lebih jauh lagi, para eksistensialis itu pun lantas juga gemar mengatakan bahwa akan cuman ada satu saja pilihan [obyektif] yang benar. Marleau Ponti lantas tanya sama Sartre pertanyaan model begini: andaikan ada petani di desa terpencil di Indonesia yang harus memilih antara membunuh istrinya yang sekarat (eutanasia), atau membiarkannya hidup sekarat..., nah, apapun pilihan si petani itu, apa bisa OBYEKTIVITASNYA dibandingkan kalau misalnya dia ada di Paris? Alias, si Ponti itu menekankan faktor subyektif & uniknya setiap peristiwa (event), sekaligus menertawakan pikirannya si Sartre yang secara tidak manusiawi itu menekankan obyektivitas.

Modernisme dalam arti pro-obyektivitas itu muncul di Indonesia via Suharto. Perhatikan omongan dan tindakannya si dakocan Suharto dulu: "kita membangun supaya tidak ketinggalan bangsa lain", dan kemudian dia mbangun cem-macem dengan duit utang. Isi pikiran itu dilandasi keyakinan bahwa "modern" atau "tidak ketinggalan" itu punya obyektivitas tertentu yang cuman bisa diraih sama pembangunan-pembangunan fisikal itu.

Ini muncul juga karena "musuh"-nya modernisme itu adalah 'ketidak-samaan'. McDonald & CocaCola itu adalah produk jaman modern, maka dia pun muncul sama, standard, satu rasa satu resep satu toko dimana-mana. Persis juga dengan IMF yang berkeyakinan (secara aposteriori) bahwa kalau di sini policy-nya jalan, maka di mana-mana yach juga harus jalan. 'Ketidak-samaan' (sikon, keunikan karakteristik suatu peristiwa) selalu diremehkan sama si modernis. Ketidak-samaan buat si modernis dianggap sebagai 'penyakit', karena itulah bangsa Indonesia pun yach harus 'sama' dan menjadi kayak, katakan saja, Amerika. Juga bangsa-bangsa Arab, Cina, Jepang..., semuanya itu hanya bisa dikatakan 'sehat' kalau mereka bisa hidup setaraf dengan standarnya si bule. Standard itu apa saja bentuknya? Yach pokoknya segala sesuatu yang mem-bule: politiknya harus demokratis liberal, perempuannya harus begini-begitu, ekonominya harus terbuka, dst. Ini semua dilakukan tanpa pandang bulu karena di matanya si modernis itu, semua harus dan berpotensi untuk menjadi 'sama'; kalau tidak begitu, yach sakit!

Buat PostMo yang memusuhi si sama (the same) itu, subyektivitas lebih penting. Orang Batak nggak doyan makan hamburger tiap hari, yach nggak apa-apa, silakan saja, dan nggak perlu jadi minder. Orang Cina nggak bisa demokratis, yach monggo saja karena Cina khan memang negara komunis; termasuk Kuba, Korut..., ngapain musti maksa-maksa semua orang jadi seperti kita? Atau bahkan, kayak Amerika, niatan mau menegakan demokrasi di Indonesia atau Chile biar bisa SAMA kayak di Amerika, tapi jadinya malah menempatkan diktaktor militer yang menyengsarakan orang Indonesia & Chile? Kenapa harus sama? Chile/Indonesia mau jadi sosialis, yach biarin saja!

Dengan demikian, musuhnya PostMo itu yach adalah si sama itu. Si sama itu adalah si fasis persis seperti Hitler; sekaligus juga seperti si Amerika yang doyan men-demokrasi-kan negara-negara lain agar sama dengan dia; atau juga format pikiran politik yang negara-sentris ala Indonesia atau Cina, sehingga banyak rakyat mampus percuma demi supremasi negara. Singkatnya, si sama itu betul-betul punya banyak wajah! Yang penting adalah pertanyaan ini: apakah dia mekso saya harus kayak dia? Kalau afirmatif (Ya!), maka jelas si dia itu yach adalah si sama itu. Dan si sama itu bakal langsung dimusuhi sama si PostMo.

PostMo dengan demikian sangat mensupremasikan ketidak-samaan. Perhatikan semua ekspresi artistik PostMo, maka Anda akan melihat rancang-bangun yang 'tidak sama' dan tidak seragam unsur-unsurnya. Kalau ekspresi artistik Anda masih terkuasai sama modernisme, maka ekspresi PostMo itu bakal kelihatan ngawur, kampungan, nggak simetris, anak TK pun yach bisa, dst.

Kalau modernisme itu adalah si 'yang' yang maskulin, maka PostMo adalah 'yin' yang feminin. Si maskulin biasanya menyukai rancang bangun yang kokoh, keras, kereng, keji dan berwibawa; karena itulah semua arsitektur modern pun modelnya begitu. Sedangkan si feminin menyukai rancang bangun yang elastis, lebih ke kurva dari pada garis lurus-lurus, membuat orang betah, mengundang orang datang, jinak, bersahabat dan supel; karena itulah arsitektur PostMo pun modelnya begitu.

----------------

PostMo saat ini sudah mulai merasuki kehidupan kita di dunia di semua segi. Tapi modernisme pun masih belum betul-betul sudi meninggalkan arena. Jadi, kita pun butuh perang dunia ketiga lagi.

Geopolitik di jaman PostMo ini misalnya, di Eropa bule-bule Eropa lagi rajin mau membuang tinja-tinja Kristen dan kembali ke Eropa ideal yang orientasinya ke Yunani kuno. Sedangkan di Cina dan India, mereka pun mulai ancang-ancang buat menegakan lagi supremasi kunonya. Di Indonesia sendiri kita sudah membantai si Modern Suharto itu, dan tertatih-tatih mau menjalankan ke-bhineka-an yang kena represi selama jamannya si Modern Suharto. Di Arab sendiri mereka rajin sembayang agar kejayaan Islam bisa tegak lagi.

Anda HARUS tahu bahwa geopolitik ini adalah fenomena yang betul-betul baru dan bertolak belakang dari geopolitik beberapa tahun yang masih modernis! Di jaman waktu ideologinya si modernis itu masih berkuasa, maka semua orang kepinginnya yach cuman jadi kayak Amerika. Pilihan musiknya cuman the Beatles, atau Madonna; dan jangan harap penyanyi etnik bisa muncul. Jangan harap Jackie Chen atau Jet Lee bisa main di Holywood. Pilihan politik pun yach cuman jadi komunis atau jadi kapitalis.

So, suka tidak suka, musuh utama di dunia postmo saat itu yach adalah si Amerika. Amerika sekarang sudah jadi kayak Hitler, sudah jadi si sama yang selalu mau main ancam kalau orang lain tidak mau jadi seperti dirinya. Omongan-omongannya pun cuman main menang sendiri. Kayak waktu Amerika konflik sama Cina sebelum 911 itu, gayanya si Amerika itu kelihatan begitu ketinggalan-jaman. Jelas dia salah (pesawat mata-matanya mendarat di Cina tanpa ijin), tapi masih tetap mau menang sendiri. Hebatnya, nggak satu negara pun sudi mbantu Amerika selain Inggris! Semua negara dengan kesadaran PostMo-nya langsung menyalahkan si Amerika yang suka ngesok itu.

Nggak heran Amerika terus di sikat sama Islam!

Tapi meski sudah disikat lewat 911 itu, tetap saja negara-negara di dunia nggak terlalu suka sama perilaku maskulinnya si Amerika yang langsung menghajar Afghanistan. Infiltrasi PostMo yang feminin itu ke dalam kesadaran orang-orang sedunia kelihatannya memang sudah kuat.

----------------

Tapi Islam sendiri sekarang, apakah Islam itu bukan cuman si sama yang lain?

Islam itu selalu menuntut agar orang lain menjadi sama seperti dirinya, dan tradisi ini sudah mulai dari jamannya si Muhammad sendiri. Dia kirim surat-surat ancaman ke kanan kiri meng-ultimatum semua orang: "jadi sama seperti aku, atau negaramu 'tak serbu!" Islam pun sama sekali tidak 'feminin', dan bahkan di Quran sendiri si Muhammad sempat diperingatkan bahwa si Maha Kontol itu adalah Al-Lah si maskulin, bukannya si Al-Lat (aslinya si dewi bulan) yang 'feminin' itu.

'Tentram' buat muslim sendiri pada dasarnya hanya bisa terbayangkan kalau semua orang sama seperti dia, sama-sama muslim. Ini akarnya ada dua: [satu] karena Islam besar di dalam komunitas satu suku Arab saja, sehingga Islam pun menjadi adalah agama tribal; dan [dua] Islam sangat menekankan uniformitas atau kesamaan tadi.

Islam dengan demikian, adalah musuh dunia di jaman PostMo juga. Islam adalah si fasis yang maunya hanya agar semua orang menjadi sama seperti dia. Islam adalah salah satu perwujudan si sama itu sendiri.

Karena itulah, perang melawan terorisme ini buat saya adalah perang modern yang (mudah-mudahan) terakhir. Ini adalah perangnya di antara dua sama yang sama-sama berkeinginan menegaskan dirinya sendiri ke yang lainnya. Amerika maunya menciptakan negara Arab yang 'demokratis' sama persis seperti dirinya; sedangkan Bin Laden sendiri sudah kirim fatwa ke orang Amerika, bertobat dan masuklah ke Islam! Baik Islam maupun Amerika itu sama-sama fasisnya.

Nah, perangnya dua sama ini mudah-mudahan berakhir dengan hancurnya keduanya, dan naiknya supremasi ketidak-samaan ala PostMo itu.

PostMo sendiri sudah datang, dan nggak mungkin dicegah lagi. Semua subyek pun sudah atau akan segera mengalami femininisasi, pluralisasi dan subyektivisasi -- entah itu ekonomi, politik, geopolitik, gaya hidup, dst. Dan semuanya itu memang konsisten sama semangat PostMo sendiri!

Bye-bye modernisme!


JD